Amaliyah Tadris; Menjadi Guru Profesional

Selasa dan Rabu (17-18/1), TMI mengadakan pembekalan di ruang pertemuan guru guna mematangkan persiapan menghadapi Tarbiyah Amaliyah Tadris santri kelas 6. Amaliyah Tadris sudah ada sejak Darul Muttaqien berdiri tepatnya setelah Darul Muttaqien berumur 6 tahun setelah didirikan. Materi pembekalan yang disampaikan adalah bimbingan tentang metode mengajar (thariqah), materi yang akan disampaikan (maadah), bahasa yang akan digunakan (lughah), kepribadian guru ketika mengajar (ahwal mudarris), bahkan cara mengkritik (darsun an-naqd) juga disampaikan ketika pembekalan.
Santri yang mendapatkan kesempatan perdana praktek pada hari kamis (19/1) adalah Nala Agesti Murbarani untuk santri putri mengajar di kelas 3F sedangkan Ahmad Katsiri Agung untuk santri putra mengajar di kelas 3A, yang mana keduanya mengajar pelajaran Muthala’ah.


Sebelum praktek , masing-masing diminta untuk menghubungi guru materi untuk bertanya materi apa yang harus diberikan, kemudian membuat persiapan mengajar selengkap-lengkapnya, karena di Pesantren Darul Muttaqien setiap guru harus menulis persiapan mengajar (i’dad) setiap minggunya sebelum masuk kelas. Khusus i’dad Tarbiyah Amaliyah Tadris ditulis di atas kertas hvs, tidak hanya materi yang akan diajarkan, tapi setiap gerak-gerik kita juga harus tertulis di dalamnya. Menggunakan bahasa Arab/Inggris i’dad itu ditulis dengan tangan, bukan komputer, kemudian harus segera diserahkan ke guru pembimbing untuk diperiksa dan dikoreksi, dan akan ditanda tangani setelah diperbaiki dan diajukan lagi.


Amaliyah tadris ini berjalan selama 8 hari dari tanggal 19 s/d 28 Januari, yang terdiri dari 8 kelompok untuk putra dan 10 kelompok untuk putri. Setiap harinya akan ada 18 santri putra maupun putri yang maju untuk praktek mengajar, masing-masing kelompok didampingi oleh guru pembimbingnya, yang mana pembimbing tersebut akan membimbing mulai dari penulisan I’dad sampai Darsu An-Naqdi.
Dengan demikian, nantinya santri ketika lulus dan masuk di perguruan tinggi sudah tidak asing dengan yang namanya micro teaching, akhirnya dengan adanya kegiatan tersebut seluruh santri kelas 6 TMI mengetahui dan siap untuk menjadi guru profesional.

Comments

comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *