Sebuah Catatan Dalam Perjalanan Membangun Jaringan Pesantren di Sumatera Utara

Pada tanggal 7 April dini hari Kami, ust. Drs. KH. Mad Rodja Sukarta, ust. Budi Santoso, MM, ust. Salim RD, S.Sos.I ust. Hendrizal Rasyid, S.S, usth. Elis Megansih, S.Pd.I, usth. Yusrianti melakukan perjalan ke Bandara Soetta dengan tujuan Bandara Silangit di sumatera utara. “tujuan dari perjalanan ini adalah untuk memelihara tali silaturrahim, proses yang akan membuat kita semakin bersyukur, dan memotivasi kader-kader kita bahwa mereka tidak pernah diabaikan, ditinggal, dan tentunya supaya mereka semakin kuat dan semakin kokoh.” Demikian Kyai Rodja menjelaskan kepada kami tujuan dari perjalanan ini disela-sela kami menunggu boarding di ruang tunggu gate 5 Bandara Soetta.

Hal yang pertama yang menjadi catatan kami dari perjalanan kami adalah betapa kami sangat bersyukur kepada Allah SWT dapat menjalankan agama Islam dengan baik, ditengah-tengah masyarakat muslim yang dalam posisi mayoritas. Sehingga ada kebanggaan, bagaimana adzan saling saut dari satu masjid ke masjid yang lain, dari satu musholla ke musholla yang lain. Acara keagamaan gegap gempita dilaksanakan di tempat kami, dari peringatan Isra Mi’raj, tahun baru Islam, maulid nabi. Majelis taklim setiap hari juga menggema di mana-mana. Tapi ditempat yang kami kunjungi, dimana muslim hanya 30 kepala keluarga, sangat sulit bagi mereka untuk dapat merasakan antusiasme beragama seperti yang kita rasakan. Bahkan menurut shohibul bait yang kami tempati, “awal tahun 80an saya harus naik perahu dan berkendara selama 5 jam untuk bisa melaksanakan kewajiban shalat jum’at berjamaah,”

Yang kedua yang kami dapati dari perjalanan kami adalah sebanyak apapun yang telah kita perbuat di Darul Muttaqien dengan mendidik kurang lebih 2300 santri, ternyata hal itu belum cukup untuk membuat impian untuk melihat kejayaan Islam menjadi nyata. Di pesantren-pesantren yang kami kunjungi ada beberapa fakta yang menjadi tantangan bagi kita dalam hal ini pendidik di pondok-pondok pesantren. Diantaranya beberapa pesantren yang gulung tikar dengan berbagai sebabnya, kemudian kecenderungan masyarakat muslim  untuk mempercayakan pendidikan putra-putri kepada pesantren cukup rendah, dan tenaga pendidik muslim di sekolah-sekolah umum juga sangat terbatas. Hal ini tentunya menjadi permasalahan tersendiri dalam penanaman nilai-nilai keislaman yang memerlukan contoh/ keteladanan  dan syiar yang kuat dan berkelanjutan.

 

Bagi yang melihat fakta seperti ini, tentu sangat wajar bila kyai Rodja sangat antusias untuk membentuk kader-kader Islam yang tangguh, militant, dan tentunya siap berjuang di pelosok-pelosok negeri. Dalam berbagai kesempatan beliau sering menyampaikan, “Kita jangan pernah bermimpi akan  kejayaan Islam kalau hal itu tidak kita rebut dan kita perjuangkan, malah diberikan kepada orang lain.” Sangat wajar kalau beliau sangat berapi-api menyemangati guru-gurunya dan santri-santri nya untuk bersungguh-sungguh melakukan segala hal yang mencerminkan keislamannya. Mulai dari masalah belajar mengajar, kebersihan, menerima tamu, kedisiplinan, kerapihan, ibadah, dan tentunya juga dalam hal kegiatan-kegiatan kepesantrenan lainnya.

Hal yang selanjutnya dari catatan kami adalah ternyata memang untuk membentuk kader itu lebih maju dan berkembang adalah dengan menerjunkan mereka langsung ke lapangan, ke masyarakat, dan tentunya ke lembaga-lembaga pendidikan yang membuat mereka maju dan berkembang. Hal ini kadang-kadang sulit bagi kami untuk dimengerti dan menerima keputusan beliau dalam mengirim santri-santri kader keluar Darul Muttaqien, dengan pertimbangan-pertimbangan kematangan usia, kematangan emosi dan psikologi, kompetensi pengelolaan, dan hal lainnya. Namun sekarang semakin jelas bagi kami, Rizwan tidak akan seperti saat ini kalau tidak di kirim ke Darul Muttaqien Pematang Siantar, Sutisna dan Rohim tidak akan seperti sekarang kalau tidak langsung di kirim ke Al-Hulaimiyah Jampang Kulon, Fauzan, Shodiq, Ali Sya’bana, dan banyak lagi kader yang dikirim ke An-Nahl dan mereka belajar sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan mereka, dimana mereka belajar menjadi pribadi yang diandalkan, menjadi pribidi yang memiliki tanggungjawab luas untuk memajukan lembaga mereka. Dan itu adalah hal yang sangat berharga bagi terbentuknya kader-kader yang tangguh.

Dan yang pasti dalam setiap kunjungannya beliau tidak pernah lupa untuk menanam pohon dan mengajak kami menanam pohon untuk kelestarian lingkungan. Bahkan beliau sempat menanyakan kepada Bu Rini, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqien Pematang Siantar, “mana pohon kelapa yang saya tanam dulu”, artinya beliau ingat dan berharap selalu dijaga apa yang sudah ditanam lalu di kembangkan, mudah-mudahan selanjutnya bisa dipanen. Demikian juga dengan kunjuangan beliau adalah bagian dari setelah menanam kader, harus dipelihara, dikembangkan, disemangati, mudah-mudahan suatu saat bisa dipanen demi kejayaan Islam.

Comments

comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *