Mengenang Jejak, Meniti Jalan Perjuangan

Oleh: Bayan Rahman (santri kelas 6 TMI)

Pidato disampaikan pada Apel PORSEKA ke-30

Ahad, 22 Juli 2018 / 9 Dzulqo’dah 1439

 

Asslamu’alaikum Wr, Wb.

Pada pagi hari ini kita saksikan para santri dan santriwati, para ustadz dan ustadzah, wali santri dan seluruh tamu undangan yang telah hadir di tengah-tengah kita, berkumpul bersama menyaksikan gerak langkah sepak terjang 30 tahun Darul Muttaqien di tengah-tengah masyarakat. 30 tahun Pesantren Darul Muttaqien ini berdiri, 30 tahun Pesantren ini mengabdi, 30 tahun Pesantren ini terus berjuang mewujudkan peradaban Islami.

Dengan ditemani 2570 santri, 265 guru, ditambah 1270 alumni, Darul Mutaqien terus menempuh serta meniti jalan perjuangan dakwah yang mulia diatas ridho Allah swt, maka inilah yang secara tidak langusng diajarkan pesantren kepada diri para santri tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya. Pesantren mengajarkan, bahwasanya kehidupan ini tak akan pernah lepas dari nilai-nilai perjuangan, pengorbanan dan pengabdian. Perjuangan, pengorbanan dan pengabdian adalah karakter yang tidak boleh hilang dari diri seorang santri, sebab seorang santri adalah seorang pejuang dan seorang pejuang adalah yang rela mengorbankan dan mengabdikan dirinya untuk perjuangan Islam.

Sungguh besar nikmat Allah swt untuk kita semua, kita berada dilingkungan Pesantren Darul Muttaqien. Ingatlah kita para santri yang berdiri di lapangan ini, yang berbaris berseragam di lapangan ini, yang hidup di atas bumi pesantren ini, bukan cuma sekedar makan dan minum saja, bukan cuma bermain dan belajar saja, melainkan kita sedang fii sabiilillah, berjihad di jalan Allah, bejuang di jalan Allah. Maka jangan pernah ada rasa takut, buang jauh-jauh perasaan khawatir, tapi mulailah kita kuatkan niat, kokohkan tekad, bangkitkan semangat untuk menjadi penerus perjuangan rasulullah saw. Yakinilah dengan firman Allah SWT “Orang-orang yang beriman, berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah swt, dan merekalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan”(QS. At-Taubah: 20)

Maka kita para santri yang pergi meninggalkan rumah kita, meninggalkan desa kita, meninggalkan kota dan daerah kita, berhijrah mengorbankan jiwa, harta bahkan nyawa kita untuk masuk ke dalam pesantren, menuntut dan belajar agama Islam, maka jangan pernah ada rasa resah. Buang jauh-jauh perasaan gundah gelisah, yakinkan hati untuk jihad fii sabiilillah. Belajarlah dari para mujahid-mujahid Islam, pejuang-pejuang agama Islam, dan para pejuang pesantren ini, yang mengorbankan jiwa, harta bahkan nyawanya, tak pernah mengenal rasa lelah, tak tau arti menyerah terus berjuang hingga akhir hayat mereka demi mewujudkan izzah ummat yang mulia. Bahkan dilanda kematian pun mereka masih bisa tersenyum gembira, karena apa? Karena mereka hidup dan mati di jalan perjuangan dakwah yang mulia. Berani hidup tak takut mati, takut mati tak usah hidup, takut hidup mati saja.

Maka mulai detik ini, marilah kita terus bekerja keras dan berusaha, istiqomah, dalam ibadah dan berdo’a mencurahkan hati dan pikiran kita, berbekal ilmu dan akhlak mulia, tuk menjadi seorang pejuang bukan pecundang, tuk menjadi pelaku sejarah bukan penonton sejarah, tuk menjadi pelopor peradaban bukan sampah peradaban. “I’maluuu fauqo maa ‘amiluu”, Bahkan berbuat lebih baiklah dari pada pendahulu-pendahulu kita lakukan, berpacu menjadi lebih baik fastabiqul khairast, berlomba-lomba dalam kebaikan. Untuk apa? Liyabluwakum ayyukum ahsanu amalaa.

Kepercayaan kita kepada sistem pendidikan yang ada di pesantren ini, yang memadukan antara ide, gerak dan langkahnya, yang dibingkai indah dalam nilai-nilai keislaman, sunggguh telah mendapatkan simpati dan kepercayaan dari seluruh elemen masyarakat. Walaupun sekali pesantren mendapatkan ganggguan-gangguan, mendapatkan hadangan-hadangan dari pihak yang tidak suka tapi tetap pesantren tak pernah mundur, pesantren tak pernah gentar, pesantren tak pernah berhenti mengajarkan para santri-santrinya syari’at dan hukum-hukum Islam, karena pesantren ini dibangun di atas landasan keikhlasan kyainya, pendirinya, pendidiknya, dan santri-santrinya. Maka tak akan pernah ada pihak manapun, tak akan ada sesuatu hal apapun yang dapat menghancurkan pesantren sebagai benteng terakhir pertahanan umat Islam. Yakinlah dengan firman Allah swt “Jika kalian tolong agama Allah, maka Allah akan tolong kalian, menguatkan langkah perjuangan kalian” (QS. Muhammad: 7)

Maka jadilah penolong-penolong agama Allah, pejuang-pejuang agama Allah yang siap berjuang di jalan Allah walaupun harus mengorbankan harta dan nyawa kita untuk menggapai kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat.

Pesantren ini didirikan, di atas tanah wakaf yang memiliki luas kurang lebih 16 hektar, maka tidak ada siapapaun yang memiliki pesantren ini kecuali milik Allah swt, maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menjaga, memelihara, mengembangkan, serta memperjuangkan tujuan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan dakwah. Tapi ada anggapan di luar sana yang menganggap pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak kompetetif, tidak dapat bersaing di dunia global, kampungan dan ketinggalan zaman, bahkan banyak dari santri sendiri yang belum faham apa itu pesantren, apa itu pesantren yang sebenarnya, mereka masih menganggap pesantren sebagai lembaga pelayanan, makannya ingin dilayani, tidurnya ingin dilayani, seluruh aktifitasnya inginnya dilayani. Maka hari ini saya tegaskan, pesantren ini bukan hotel, pesantren ini bukan tempat penginapan, pesantren ini bukan boarding school. Disini tidak ada yang dilayani dan melayani, disini tidak ada tuan dan tidak ada pelayan. Tapi disini adalah perjuangan, yang ada disini adalah orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa kemandirian.

Maka buang jauh-jauh pikiran ningrat, exclusive, manja bahkan kekanak-kanakan, maka kalau masih ada santri yang inginnya dimanja, inginnya dienaki, inginnya dilayani, yang mau belajar hanya bisa menangis, baru belajar sebulan dua bulan sudah mengatakan kepada orangtuanya bahwa saya tidak betah, maka santri ini tidak mengerti bahwa hidup ini adalah perjuangan dan kalau ada wali santri memasukkan anaknya ke pesantren dengan hati yang setengah-setengah, inginnya menang sendiri, sukanya merusak peraturan pesantren, sukanya menyudutkan dan menyalahkan pesantren, maka saya katakan bawa kembali anaknya pulang! karena pak kyai sering bilang “disini bukan tempat penitipan anak” bahkan sering saya dapatkan banyak wali santri yang mengkhawatirkan apa pekerjaan anak saya letika lulus dari pesantren, banyak wali santri yang takut anaknya tidak menjadi dokter, arsitek, pengusaha, dan lain sebagainya, maka hari ini saya jawab “banyak lulusan pesantren yang menjadi anggota dewan, dokter, pengusaha dan tentunya seorang ulama”, tapi yang perlu difahami adalah pesantren tidak mengajarkan santri berorientasi hidup secara materi, mencari duniawi, dan mencari pekerjaan dan ijazah. Tapi orientasi hidup seorang santri yang diajarkan pesantren adalah bagaimana hidupnya bisa memberi manfaat bagi orang-orang yang ada di kelilingnya, khairunnaasi ‘anfa’uhum linnaasi. Sebab manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain. Dan yang perlu difahami adalah peantren ini adalah tempat penggemblengan kader-kader umat terbaik yang akan menjadi pemimpin hebat di masa yang akan datang.

Maka belajarlah dari para pendiri pesantren ini, yang telah membangun pesantren ini dengan asas keikhlasan dan perjuangan. Maka kalaulah KH. Sholeh Iskandar telah lebih dulu meninggalkan kita, kalaulah H. Muhammad Nahar telah lebih dulu meninggalkan kita, dan kalaulah KH. Abdul Manaf Mukhayyar telah meninggalkan kita, tapi tetap semangat dan jiwa perjuangan mereka harus terus hidup diseluruh sendi kehidupan yang ada di pesantren ini.

Cita-cita mulia mereka akan dilanjutkan oleh seluruh warga pesantren yang ada di dalamnya, ingatlah tatkala pohon perjuangan tak akan pernah kehabisan akal, untuk menumbuhkan daun-daun perjuangan, baru mati satu tumbuh seribu. Akan lahir jutaan-jutaan pejuang-pejuang agama Allah yang siap berjuang li’ilai kalimatillah, maka jangan pernah resah karena benih-benih perjuangan akan terus tumbuh dari pesantren ini.

Maka untuk menanamkan nilai-nilai kepesantrenan, keislaman, keilmuan dan kemasyarakatan pada diri seorang santri, pesantren selalu berlandasakn kepada panca jiwa pondok, yaitu:

  • Keikhlasan
  • Kesederhanaan
  • Kemandirian
  • Ukhuwah Islamiyah
  • Kebebasan

Maka kami para santri tak akan pernah berhenti, kami akan terus berlari kencang mengejar mimpi memandang jauh nan tinggi menyiapkan diri menjadi armada penyongsong yang cerah, dengan goresan tinta emas pejuang suci, asa kami para santri tak akan pernah mati, akan terus menemani dan menerangi perjuangan kami mewujudkan cita-cita tujuan harapan para pendiri meniti jalan menapak bumi menggapai dunia lillahi rabbi, dari podium ini saya mengajak santri sekalian marilah kita terus berjuang tak perlu resah dalam berjuang, tak perlu gundah dalam berjuang, tak perlu gelisah dalam berjuang, walaupun resiko terbesar seorang pejuang adalah kematian, tak berjuangpun akan mati, maka matilah di dalam jalan perjuangan. ‘Isy kariiman au mut syahiidan, inilah nasihat bapak pimpinan kita, marilah kita terus melangkah menggapai asa dan cita-cita yang mulia, marilah kita terus berjuang hingga datangnya kematian, marilah kita terus memberi, karena itulah mental seorang santri.

Maka bertepatan dengan momen Apel Tahunan Pekan Olahraga Seni dan Pramuka yang ke-30 dan juga bertepatan dengan 30 tahun Darul Muttaqien, marilah kita ukir prestasi-prestasi terbaik, kita ciptakan karya-karya terbaik even the best can be improved, sebab yang terbaik pun masih bisa diperbaiki. Semoga kita bisa menjadikan jiwa-jiwa pejuang dalam diri kita untuk terus berusaha menjadi umat dan generasi terbaik, tuk terus berjuang mengembailkan kejayaan yang telah lama hilang, peradaban gemilang yang sudah lama terpendam, kemuliaan umat yang telah lama dihinakan. Marilah kita kepalkan tangan, busungkan dada, rapatkan barisan, kita bangkitkan kejayaan Islam.

Inilah yang dapat saya sampaikan jika ada yang benar itu dari Allah dan jika ada yang salah itulah kekeliruan dari saya sendiri.

Wassalamu’alaikum Wr, Wb.

Comments

comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *