Sungguh Indah Kepergianmu

Mengenang Wafatnya KH. Jajang bin M. Ali, Mekkah Al Mukarromah, 26/08/18 : 09.00

Oleh : Darul Muttaqien

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun, telah dipanggi Allah Sang Pemilik Jiwa manusia, guru dan orang tua kami KH Jajang bin Muhammad Ali yang biasa kami panggil namanya dengan Kyai Jajang Abdullah. Kaget dan hampir tak percaya mendengar wafatnya beliau dari Mekkah, namun inilah kebenaran janji Allah akan kepastian ajal bahwa setiap makhluk yang bernyawa suatu saat akan meninggal dunia.

Sosok yang sangat sederhana, tidak banyak berkata-kata, namun kedalaman ilmunya telah menjadikan beliau sebagai gurunya para guru di Pesanten Darul Muttaqien. Begitupun kiprah di masyarakat, menjadikan beliau sebagai sosok guru yang dimuliakan oleh masyarakat lingkar pesantren. Beliau wafat hari minggu, 26 Agustus 2018 di Rumah Sakit King Faisal pada pukul 09.00 waktu setempat.

Memberikan kajian aqidah, fikih dan tasawuf kepada guru-guru Darul Muttaqien setiap pekan menjadikan beliau akan terus dikenang dan didoakan. Sosok yang menjadi teladan sekaligus rujukan itupun kini telah meninggalkan kita. Semoga akhir hidup beliau beliau husnul khotimah, sebagimana yang sering beliau ungkapkan, bahwa manusia itu akan ditetapkan di akhir hidupnya.

Sungguh indah kepergian beliau, saat di tanah air beliau sangat dimuliakan dan meninggal di tanah suci yang dimuliakan Allah. Beliau dipanggil Allah disaat menunaikan ibadah di Mekkah. Beliau benar-benar telah memenuhi panggilan Allah, raga dan jiwanya. Semoga kita yang ditinggalkan memaafkan atas kesalahan yang pernah diperbuat dan mendoakan semoga husnul khotimah dan mendapatkan haji yang mabrur.

Kehadiran beliau di Darul Muttaqien merupakan sebuah kebaikan dan anugerah, sebab sejak sekitar tahun 1993, beliau terus mengabdikan diri di pesantren, tanpa mengenal lelah dan tidak banyak mengeluh. Padahal sebenarnya beliau beberapa tahun terakhir merasakan sakit. Ketika beliau menceritakan sakitnya, beliau maksudkan untuk menjadi pembelajaran bagi orang lain.

Pengabdian dan perjuangan beliau telah genap 25 tahun [1993-2018] di Darul Muttaqien. Dedikasi tulusnya semoga membawanya kepada keridhoan Allah. Semoga keluarganya diberikan kesabaran dan tetap istiqomah meneladani perjuangan almarhum. Beliau pernah berpesan bahwa barang siapa yang menyayangi makhluk yang di bumi, maka Allah yang dilangit akan menyayanginya.

Pesan beliau saat mengisi pengajian guru-guru masih sangat melekat di benak kita. beliau pernah mengungkapkan bahwa semua manusia pasti memiliki dosa , baik dosa besar maupun kecil, baik sengaja maupun tidak sengaja, baik banyak maupun sedikit, namun amal manusia akan dihitung pada ujung usianya, apakah husnul khotimah atau su’ul khotimah.

Sebab manusia pada dasarnya selalu dihadapkan dengan ujian yang sangat menentukan perjalanan hidupnya. Beliau pernah juga berpesan mengutip perkataan Imam Al Ghazali bahwa yang dekat adalah kematian, yang ringan adalah meninggalkan sholat, yang berat adalah amanah, yang jauh adalah angan-angan dan yang besar adalah hawa nafsu manusia.

Saat memberikan kajian kitab Aqidah Ad Dasuki atau Ummul Barohim, beliau menegaskan bahwa Allah maha penyayang dan dermawan, maka semestinya manusia senantiasa berdoa mohon ditambahkan nikmat selama hidupnya dan memohon diberikan husnul khotimah saat kematiannya. Allahumma inna nas’aluka husnal khotimah.

Beliau menguatkan indikasi kematian husnul khotimah adalah mengucap kalimat tauhid laa ilaaha illaAllah disaat menjelang kematian. Karena itu, beliau memberikan pesan bahwa hendaknya manusia menghindarkan diri dari melakukan dosa-dosa kecil yang kadang tidak merasa perbuatan itu sebagai dosa.

Rejeki yang diberikan Allah kepada kita, lanjut beliau, semoga bukan dalam bentuk istidraj, yakni rejeki banyak yang diberikan kepada orang-orang kafir. Keselamatan dunia akherat, itulah target utama seorang muslim, lanjut beliau menutup satu sesi pengajian.

Dalam catatan penulis, terakhir beliau mengisi kajian kitab aqidah Ad Dasuki ‘ala ummul Barohin sampai pada halaman 18 baris ke 21 yang menceritakan tentang masalah kematian yang husnul khotimah dan kata salbu yang maknanya dicabutnya keimanan seseorang saat meninggal dunia atau su’ul khotimah.

Itulah yang dimaksud diatas dengan ungkapan beliau inna a’mala bikhowatimi, sesungguhnya amal manusia dihitung di akhir hidupnya. Ternyata penjelasan beliau di kitab Ad Dasuki tentang kematian adalah kajian terakhir beliau. Maha Besar Allah.

Suatu saat beliau pernah menyampaikan kepada guru-guru bahwa Rasulullah begitu mencintai umatnya. Begitupun kami, seluruh guru dan santri Darul Muttaqien begitu mencintai almarhum, semoga akhir hidup beliau husnul khotimah dan beliau sebagai salah satu umat yang dicintai oleh Rasulullah.

Pada akhirnya, sebuah perjalanan akan sampai juga pada ujungnya. Begitupun kehidupan di dunia akan berakhir kepada kematian. Hanya Allah yang tahu kapan dan dimana kita semua akan mati. Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah menghidupkan kita di tempat mulia dan mematikan juga di tempat mulia dengan cara yang mulia. Semoga kelak di akherat, kita semua ditempatkan di tempat yang mulia, yakni surga nan abadi bersama kekasih Allah, Rasulullah Muhammad SAW.

Selamat jalan guru dan orang tua kami, semoga Allah meridhoimu. Indahnya kepergianmu seindah jejak perjuanganmu di pesantren ini. Semoga kami bisa meneladani kebaikanmu dan terus mengenang ucapan dan nasehatmu. Doa kami senantiasa mengalir untukmu.

[DarulMuttaqien,26/08/18 : 15.30 WIB]

Comments

comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *