Khotmul Qur’an Angkatan ke-13; Menjadi Santri yang Penuh Berkah

Ahad (27/1), Pesantren Darul Muttaqien adakan Khotmul Qur’an yang ke-13 yang dihadiri oleh seluruh santri, dewan guru serta orang tua peserta khotmul. Peserta terbagi menjadi dua kelompok, santri yang berseragam gamis coklat adalah peserta Khotmul Qur’an yang berjumlah 37 santri, sedangkan 26 santri yang berseragam gamis hitam adalah santri yang sudah lulus mengikuti IMTAS (imtihan akhir santri).

Peserta sudah melalui beberapa tahap seleksi yang panjang, mulai dari seleksi oleh pembimbing halaqoh kemudian diseleksi kembali oleh bagian pengasuhan, lalu mendapatkan bimbingan, pembinaan oleh pembina qiro’ati yang pada akhirnya meluluskan sebanyak 63 santri.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan laporan oleh ketua pelaksana Maulvi Nizar santri kelas 5 TMI. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh wakil Pimpinan ust. Salim, RD. S.Sos.I. Lalu, setelah itu adalah prosesi Khotmul Qur’an dan dilanjutkan sesi tanya jawab dimana para peserta diuji (Imtihan) dengan berbagai pertanyaan seputar Ilmu Tajwid dan Ilmu Gharib, dewan guru dan wali santri diberi kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada peserta Khotmul Qur’an.

Sebagai penutup acara, Al-Ustadz Koko Liem, S.Q, M.A bertindak untuk menyampaikan tausyiah usai prosesi wisuda peserta Khotmul Qur’an, Liem Hai Thai atau sering dipanggil Koko Liem adalah seorang da’i keturunan Tionghoa.

Beliau mempunyai gaya yang khas ketika berdakwah. Dengan berbalut baju tradisional china, Koko Liem tak malu menonjolkan identitasnya sebagai keturunan etnis Tionghoa. Bahkan disetiap dakwahnya, ia selalu menyisipkan Bahasa Mandarin.

Dalam tausyiyahnya, Koko liem mengatakan bahwa kita hidup di dunia ini salah satu tujuannya adalah mencari berkahan bukan kesuksesan semata, beliau berkata “jika ingin hidup sukses gampang sekali, ikuti saja prinsip orang barat time is money, jadi sepanjang hidupnya hanya semata mencari uang agar sukses, tapi tidak pernah sholat atau sedekah”. “memiliki rumah mewah, harta yang melimpah, mobil mewah, emas perhiasan itu semuanya adalah simbol sukses, bukan simbol berkah”, tambahnya.

“Sama halnya saat memondokkan putra-putri kita ke pesantren tujuannya adalah mencari keberkahan, menjadi anak yang berkah bukan sukses, sedikit yang Allah SWT berikan, tapi berkahnya membuat kita bahagia, hati tenang dan tentram”, jelasnya.

Comments

comments

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *