Amaliyah Tadris; Micro Teaching ala Pesantren Darul Muttaqien, Bekali Alumni Ketrampilan Mengajar

Amaliyah Tadris merupakan salah satu bentuk ujian akhir bagi santri kelas 6 TMI Pesantren Darul Muttaqien, yaitu praktek mengajar terbimbing dan dievaluasi oleh santri kelas 6 lainnya. Sistem Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah (TMI) di Darul Muttaqien inilah yang mengharuskan masing-masing santri harus memiliki ketrampilan dan kemampuan mengajar atau menjadi pendidik yang ideal.

Kamis (16/01), telah dilaksanakan praktek mengajar perdana untuk santri kelas 6 TMI, santri yang mendapatkan kesempatan perdana untuk praktek pada hari kamis (16/01) adalah Hana Hazim Nashif Kanz mengajar di kelas 3E sedangkan Fauziyah Nurul Hanifah di kelas 3I, dengan mata pelajaran Muthala’ah yang diajarkannya.

Sebelum maju untuk praktek, santri kelas 6 TMI sudah dibekali tentang metode mengajar (thariqah), materi yang akan disampaikan (maadah), bahasa yang akan digunakan (lughah), kepribadian guru ketika mengajar (ahwal mudarris), agar menjadi mudarris yang profesional. Selain itu, cara mengkritik (darsun an-naqd) juga disampaikan saat pembekalan agar santri belajar mengkritik dan mengevaluasi santri lainnya dengan baik.

Praktek mengajar ini akan dilaksanakan selama 8 hari sejak sabtu (18/1) sampai dengan sabtu (25/1) depan. Sebelum santri kelas 6 atau guru praktikan maju untuk praktek, masing-masing santri diharuskan membuat I’dad (RPP) yang harus dibuat menggunakan tulisan tangan, serta dikoreksi dan disahkan oleh guru pembimbing.

Setelah praktek mengajar ada kegaitan Darsun an-Naqd atau kegiatan Mengkritik Proses Belajar dan Mengajar, kegiatan inilah yang tidak kalah menarik dan menantang selain menjadi guru praktikan. Karena kritikan yang ditulis oleh teman kelompoknya, akan dibahas dalam forum bersama guru pembimbing dan teman-teman kelompoknya, selain itu yang mengkritik juga harus memberi islah/pembetulan dari yang salah tersebut.

Dengan demikian kegiatan amaliyah tadris di pesantren ini menjadi sangat penting, dengan begitu pesantren ikut berkontribusi mencetak dan melahirkan guru yang ideal di masa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *