Bogor, 20 Agustus 2025 – Malam di GOR Putri Pesantren Darul Muttaqien terasa berbeda. Panggung Gembira 632 yang digelar oleh santri putri menampilkan rangkaian seni, kreativitas, dan semangat kebersamaan yang menjadi puncak dari Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy ke-37. Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium pendidikan karakter yang nyata di hadapan para orang tua, guru, dan sesama santri.
Dalam sambutannya, KH. Mad Rodja Sukarta, Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, menegaskan kembali peran pesantren sebagai pusat pembentukan akhlak, keimanan, dan inovasi. “Pesantren itu mendidik agar anak bisa hidup pada zamannya. Darul Muttaqien tidak boleh mengajarkan hal-hal yang basi. Kita harus terus berijtihad, berinovasi, dan berkolaborasi. Malam ini saya kagum, karena setiap tahun anak-anak selalu tampil berbeda—menunjukkan bahwa mereka mampu berkreasi dan jauh dari kejumudan,” ujarnya.
KH. Mad Rodja juga menekankan bahwa pendidikan pesantren bukan hanya menyiapkan santri untuk hari ini, melainkan untuk masa depan. “Saya tidak akan kaget kalau melihat anak-anak pesantren ini jadi menteri, presiden, pengusaha, ulama, atau pimpinan pesantren. Karena tantangan ke depan itu seribu, tetapi kita jawab dengan sejuta keyakinan dan kreativitas,” tegasnya, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Sementara itu, Ust. Hendrizal Rasyid, S.S., Kepala TMI, dalam evaluasinya menyampaikan bahwa Panggung Gembira lebih dari sekadar pentas seni. “Kegiatan ini diolah dengan tujuan mendasar: membentuk karakter, mental, dan daya juang santri. Anak-anak belajar bekerjasama, bersungguh-sungguh, dan berkreasi. Inilah kurikulum pesantren yang sesungguhnya—memberi bekal luar biasa untuk kehidupan mereka kelak di masyarakat,” ungkapnya.
Sebanyak 55 santri kelas enam yang menjadi penggerak acara ini dikenal sebagai generasi yang tangguh, karena sempat menempuh masa belajar di tengah pandemi Covid-19. Malam itu mereka membuktikan diri sebagai santri yang mandiri, kreatif, dan inovatif, sekaligus menutup rangkaian acara dengan penuh wibawa.
Panggung Gembira 632 akhirnya bukan hanya sekadar pesta seni, melainkan cermin bagaimana pesantren membentuk santri untuk menjawab tantangan zaman dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Tinggalkan Komentar