Pesantren Darul Muttaqien menggelar rangkaian Ujian Lisan Semester 1 bagi seluruh santri TMI. Kegiatan ini dilaksanakan selama satu pekan, mulai 4–11 Desember 2025, sebagai tahap awal sebelum memasuki ujian tulis.
Ujian lisan diikuti oleh seluruh santri TMI mulai kelas 1 hingga kelas 5, sementara kelas 6 TMI mendapat amanah sebagai tim penguji bersama para dewan guru. Setiap ruang ujian diisi oleh empat penguji, terdiri dari dua guru dan dua santri kelas 6 TMI, sehingga proses penilaian berlangsung lebih objektif dan terstruktur.
Setiap santri dijadwalkan mengikuti tiga jenis ujian lisan, yaitu:
Bahasa Arab (muhadatsah, tamrin lughoh, mahfudzot, muthola’ah, terjemah, mufrodat)
Bahasa Inggris (conversation, reading, speaking, vocabularies)
Dirosah Islamiyah (aqidah, fiqih, ski)
Ketiga materi ini menjadi paket penilaian utama untuk mengukur kesiapan santri dalam kemampuan bahasa, pemahaman kitab, dan ketuntasan materi keislaman secara menyeluruh.
Selain menilai kemampuan akademik, ujian lisan juga bertujuan melatih mental, kepercayaan diri, ketepatan berpikir, serta kemampuan menyampaikan jawaban secara lugas dan terstruktur, kompetensi yang menjadi karakter dasar lulusan TMI.
Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, kembali menegaskan makna mendalam di balik pekan ujian ini. Beliau menyampaikan bahwa ujian bukan hanya untuk santri, tetapi juga untuk seluruh warga pesantren. “Di pekan ujian ini bukan hanya santri yang diuji. Kita semua sedang diuji, mulai dari pimpinan, guru, pembimbing, karyawan, hingga para penguji dari kelas 6. Karena setiap hari, setiap detik, apa yang kita kerjakan itu semuanya adalah ujian,” ujar beliau.
Pernyataan ini seakan mengingatkan bahwa proses pendidikan di pesantren tidak hanya menekankan aspek akademik, melainkan juga kesungguhan, amanah, dan integritas seluruh unsur di dalamnya.
Salah satu santri Aqil Afkari santri kelas 3, yang mengikuti ujian lisan mengungkapkan pengalamannya saat memasuki ruang ujian. “Sebelum masuk saya sudah hafal semua materi yang bakal ditanya. Tapi begitu masuk ruang ujian, rasanya semua buyar. Mental kita benar-benar diuji. Yang tadinya hafal, bisa lupa karena grogi,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ujian lisan tidak hanya menilai hafalan, tetapi juga kesiapan mental dan kemampuan menyampaikan ilmu di bawah tekanan.
Dengan pelaksanaan ujian lisan ini, pesantren berharap santri tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga semakin matang dalam mental, disiplin, dan karakter. Ujian lisan menjadi wadah pembentukan diri sekaligus persiapan menghadapi ujian tulis dan proses pendidikan sepanjang semester.

Tinggalkan Komentar