Parung – Dewan Guru Pesantren Darul Muttaqien kembali menggelar kegiatan rutin Kamisan pada tanggal 7 Mei 2026. Bertempat di Masjid Putih, agenda kali ini menjadi momen refleksi mendalam melalui tausiyah yang disampaikan langsung oleh Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta.
Dalam arahannya, KH. Mad Rodja Sukarta mengingatkan seluruh pendidik melalui pesan-pesan lugas mengenai berat dan mulianya amanat yang diemban. Beliau mengingatkan betapa besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap santri-santrinya.
“Coba betapa mulianya kita ngurus anak-anak ini. Anak-anak yang kita cintai ini, itu titipan Allah dan amanat kedua orang tuanya,” ujar KH. Mad Rodja Sukarta di hadapan para dewan guru. Beliau menegaskan kembali posisi guru dengan menyatakan, “Kita ini mewakili kedua orang tuanya untuk melaksanakan tugas mendidik, menyampaikan, menyayangi, dan terus memberi contoh kepada putra-putri kita”.
Pimpinan Pesantren juga menyoroti pentingnya menjaga niat di tengah rutinitas kegiatan belajar mengajar yang padat. Beliau mengingatkan bahwa kelalaian sering kali menjadi pintu masuk bagi pudarnya keikhlasan.
“Ujian terberat adalah tatkala kita melakukan sesuatu, kita lupa kepada niat kita. Niat kita apa? Ibadah. Karena Allah mendidik putra-putri umat Islam supaya nanti menjadi anak-anak yang soleh, solehah, gemar beribadah, akhlaknya mulia, terus semangat menuntut ilmu,” tegas beliau.
Lebih lanjut, beliau juga menyinggung tentang dinamika emosi guru dalam mendisiplinkan santri. “Kalau kita sebagai pendidik mungkin marah, mungkin kecewa. Tapi marahnya itu harus ada dampak perbaikan untuk anak kita. Harus ada dampak lebih percaya kepada guru… anak-anak itu semakin semangat,” pesan beliau menasihati.
Dalam hal pencapaian pendidikan, beliau memberikan pandangan yang sangat mendasar bahwa keterampilan akademis harus dibarengi, bahkan didahului, oleh adab yang baik. “Apa sih keunggulan anak-anak kita? Keunggulan orang Islam itu adab. Apa keunggulan sebuah bangsa? Ya adab,” terang beliau.
Beliau menggarisbawahi bahwa pembentukan adab santri sangat bergantung pada teladan gurunya. “Bapak ibu guru, yang pertama itu sesungguhnya adab. Jadi jangan salahkan anak-anak kalau dalam belajar itu adabnya kurang bagus… adab itu adalah melekat pada perilaku para pendidiknya,” lanjut beliau.
Menyikapi berbagai ujian dan kasus pelanggaran yang marak terjadi di luar lingkungan pesantren belakangan ini, beliau mengajak seluruh elemen untuk memperbanyak istighfar. Beliau memberikan peringatan keras agar kebesaran pesantren yang telah dibangun tidak hancur oleh kelalaian sesaat.
“Pekerjaan kita yang 100-200 tahun lumer oleh pandangan manusia. Itu ada peribahasa orang tua dulu, panas setahun itu terhapus oleh hujan yang lebat satu hari. Ini hati-hati,” pesan beliau dengan penuh penekanan.
Sebagai langkah preventif menjaga muruah (kehormatan) pesantren, Pimpinan memberikan instruksi khusus terkait pendampingan mengajar, khususnya di kelas putri.
“Bukan tidak boleh guru laki-laki yang muda itu mengajar di depan anak-anak putri, tetapi di situ ada sosok pengasuh yang mendampingi, yaitu guru-guru sepuh,” instruksi beliau. Beliau juga berpesan khusus kepada para senior, “Guru-guru sepuh ini betul-betul harus menjadi inspirator, harus menjadi pemicu,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa memohon perlindungan kepada Allah agar seluruh dewan guru senantiasa ditetapkan imannya dalam mengabdi di jalan pendidikan.
Tinggalkan Komentar