Pesantren Bukan Sekadar Tempat Mengajar
Bagi para pendidik Pesantren Darul Muttaqien, Kamisan bukan sekadar agenda rutin setiap pekan. Ia menjadi ruang untuk bersilaturrahmi sekaligus menyegarkan kembali kesadaran tentang amanah mendidik. Pada Kamisan Pendidik edisi Kamis, 1 Oktober 2026, Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien KH. Mad Rodja Sukarta mengingatkan bahwa guru di pesantren tidak hanya bertugas menyampaikan pelajaran, tetapi juga ikut menjaga arah pendidikan dan menyiapkan generasi yang memahami nilai-nilai agama.
Dalam tausiyahnya, Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, menekankan bahwa berkumpul dan bersilaturrahmi merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pesantren. Menurutnya, seorang pendidik perlu memahami amanah yang diembannya, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan pendidikan yang membentuk generasi. “Kumpul itu prioritas, kumpul itu penting” Ungkapnya.
Beliau mengingatkan bahwa para guru merupakan pemegang amanah dari orang tua. Karena itu, pendidikan di pesantren tidak boleh kehilangan arah dan tujuan dasarnya.
Dalam tausiyahnya, KH. Mad Rodja Sukarta menjelaskan bahwa keberadaan pesantren memiliki tujuan yang lebih mendalam, yakni memperkuat pemahaman agama, akidah, akhlak, ibadah, dan kehidupan bermuamalah.
Ia menegaskan bahwa guru di pesantren tidak cukup hanya datang ke kelas, menyampaikan materi, lalu selesai. Seorang guru memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan perkembangan akhlak dan kepribadian anak didiknya.
“Kita itu bukan sedang mengajar orang-orang calon manusia sekuler.” Karena itu, pendidikan di Darul Muttaqien diarahkan agar nilai-nilai agama tidak berhenti pada pembelajaran di dalam kelas. Nilai tersebut diharapkan tercermin dalam sikap, perilaku, dan keseharian santri.
Kiyai Rodja juga mengingatkan pentingnya keteladanan guru. Menurutnya, peran pendidik berlangsung sejak memasuki lingkungan pesantren hingga kembali ke rumah. Guru harus menjadi contoh yang dapat dilihat dan diikuti oleh para santri.
Lebih jauh, tausiyah Kamisan Pendidik kali ini menyoroti peran Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat (TMI) dalam menyiapkan kader yang mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat.
“Kita sedang menyiapkan generasi agar menjadi generasi yang patuh, tunduk, taat kepada Allah SWT.”
Menurut KH. Mad Rodja, pendidikan pesantren harus membekali santri agar mampu menjalankan peran di tengah masyarakat. Lulusan pesantren diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami tanggung jawab keagamaan dan sosial.
Ia memberikan gambaran bahwa kelak para alumni dapat mengambil peran di tengah masyarakat, mulai dari mengurus masjid, majelis taklim, hingga membantu masyarakat dalam berbagai persoalan keagamaan.
Di bagian akhir tausiyah, Pimpinan mengajak para pendidik untuk kembali kepada niat utama dalam mendidik. Menurutnya, pendidikan pesantren merupakan bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi yang mampu menjaga nilai-nilai agama di masa mendatang.
“Mulailah dari diri kita. Niatkan bahwa diri kita hanya ingin menyelamatkan generasi yang akan datang.”
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan agama tidak cukup dilakukan dalam satu kegiatan atau satu mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut perlu hadir sejak santri memasuki kelas, berinteraksi dengan guru dan teman, hingga kembali ke lingkungan keluarga.
Kamisan Pendidik pun kembali menjadi ruang refleksi bagi para guru Darul Muttaqien: bahwa mendidik bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi juga tentang menjaga arah, memberi teladan, dan menyiapkan generasi agar tetap dekat dengan Allah SWT.


Saat ini belum ada komentar