Beranda » Profil » Sejarah Pesantren Darul Muttaqien

Sejarah Pesantren Darul Muttaqien

Sejarah Pesantren Darul Muttaqien: Dari Wakaf 1,8 Hektare hingga Berkembang

Cerita Darul Muttaqien bermula dari sebidang tanah wakaf seluas 1,8 hektar. Tanah itu diberikan oleh H. Mohamad Nahar (alm), mantan wartawan senior di Kantor Berita Antara. Beliau melihat kondisi masyarakat di sekitar Jabon Mekar yang saat itu memang cukup memprihatinkan, baik dari sisi ekonomi maupun keagamaan.

Sebelum mendirikan pesantren, Pak Nahar sebenarnya sudah pernah mencoba membantu lewat cara lain, yaitu mendirikan koperasi. Sayangnya usaha itu tidak berjalan mulus. Masyarakat sekitar kurang percaya, dan akhirnya koperasi itu bubar tanpa sisa apa-apa. Dari situ terlihat betapa sulitnya kondisi Desa Jabon Mekar di tahun 1980-an, dan betapa besar niat Pak Nahar untuk terus mencari jalan supaya daerah ini bisa berkembang.

Sebagai bagian dari tokoh Masyumi, Pak Nahar punya banyak kenalan di kalangan ulama dan aktivis dakwah. Beliau lalu berdiskusi dengan K.H. Muhammad Rusyad Nurdin soal niatnya mewakafkan tanah. Karena jaringan Masyumi waktu itu terhubung erat dengan Badan Kerja Sama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), nama Pak Nahar pun sampai ke K.H. Sholeh Iskandar, yang saat itu menjabat ketua BKSPPI dan tinggal di Bogor, tidak jauh dari lokasi tanah.

Tahun 1986, tanah itu resmi diserahkan pengelolaannya kepada Kyai Sholeh Iskandar, dibantu oleh K.H. Taufik. Sempat ada niat menunjuk seseorang untuk memimpin pembangunan pesantren, tapi rencana itu terganjal kendala dan tidak jadi dilanjutkan.

Kyai Sholeh tidak menyerah begitu saja. Beliau kemudian menemui K.H. Abdul Manaf Mukhayyar, tokoh Masyumi yang juga pendiri Pondok Pesantren Darunnajah di Jakarta. Dari sinilah titik terang mulai muncul. Kyai Manaf mempercayakan urusan ini kepada K.H. Mahrus Amin, yang juga aktif di Darunnajah, untuk mulai merintis pembangunan.

Kyai Mahrus-lah yang kemudian turun langsung mengurus tanah wakaf di Parung, termasuk membeli tambahan tanah seluas 300 meter persegi supaya lahan yang tadinya terpisah bisa tersambung jadi satu kesatuan.

Pembentukan Badan Wakaf pun dilakukan di rumah H. Nahar di Tanah Kusir, pada 12 April 1986. Dalam struktur awal ini, K.H. Sholeh Iskandar dan K.H. Abdul Manaf Mukhayyar berperan sebagai pengasuh, Kyai Mahrus Amin sebagai ketua, dan Ir. Mohamad Sutisna turut membantu di jajaran pengurus.

Selanjutnya, Kyai Rodja, yang saat itu masih mengabdi di Darunnajah, diberi amanah oleh Kyai Mahrus untuk memimpin langsung pembangunan pesantren, dengan dukungan penuh dari Kyai Manaf. Bersamaan dengan itu, Ustadz Shodiq Maqsudi juga ditugaskan untuk tinggal menetap dan mulai menghidupkan kegiatan di tanah wakaf tersebut.

Mencari orang-orang yang tepat untuk merintis pesantren ini memang tidak mudah. Prosesnya panjang dan penuh tantangan. Tapi kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 5 Dzulhijjah 1408 H, bertepatan dengan 18 Juli 1988, Pondok Pesantren Darul Muttaqien resmi berdiri.

Semangat Kyai Rodja dalam memajukan pesantren ini terus terlihat dari tahun ke tahun. Berkat keuletannya, Darul Muttaqien terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang.

Pada masa-masa awal, Darul Muttaqien masih berada dalam naungan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta sebagai filialnya. Demi kemandirian dan keberlanjutan pesantren ke depan, Kyai Manaf menyarankan agar Darul Muttaqien membentuk yayasan tersendiri. Maka, empat tahun setelah berdirinya, tepatnya pada 29 Januari 1992, Yayasan Darul Muttaqien pun resmi dibentuk dengan H. Mohamad Nahar sebagai ketua pertama.

Kepemimpinan yayasan kemudian berpindah tangan pada 27 Oktober 2002, ketika H. Mohamad Nahar mengundurkan diri dan digantikan oleh M. Lutfi Nahar, SE, berdasarkan hasil rapat anggota. Pergantian ini menjadi bukti bahwa pesantren sudah punya sistem organisasi yang berjalan, bukan sekadar mengandalkan sosok pendirinya saja.

Satu momen yang tidak kalah penting terjadi pada tahun 2003, yaitu pelaksanaan ikrar wakaf pesantren yang pertama. Peristiwa ini bukan sekadar formalitas. Setelah ikrar itu disaksikan masyarakat, status pesantren menjadi jelas: Darul Muttaqien bukan milik pribadi siapa pun, melainkan milik Allah dan umat Islam. Sejak saat itu, tanggung jawab menjaga dan mengembangkan pesantren pun menjadi tanggung jawab bersama, bukan lagi beban satu keluarga atau satu tokoh saja.

Kalau ditelusuri ulang, perjalanan panjang ini menunjukkan satu hal yang sederhana tapi penting: Darul Muttaqien tidak berdiri karena satu orang hebat, tapi karena banyak orang yang mau saling melanjutkan perjuangan orang sebelumnya, meski sering kali menemui jalan buntu di tengah jalan. Dari niat baik seorang wartawan yang gagal membangun koperasi, sampai ikrar wakaf yang mengokohkan status pesantren sebagai milik umat, semuanya menyambung jadi satu cerita panjang tentang kesabaran dan kepercayaan.

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya

  • Fathul Kutub; Mengkaji Kitab, Menggali Ilmu, Menjadi Santri Berwawasan dan Berpengetahuan Luas

    Fathul Kutub; Mengkaji Kitab, Menggali Ilmu, Menjadi Santri Berwawasan dan Berpengetahuan Luas

    • Kamis, 19 Oktober 2023

    Dibaca: 2,729 Fathul Kutub merupakan program tahunan TMI Pesantren Darul Muttaqien yang diberikan kepada santri kelas 5 TMI agar mereka memiliki bekal dan pengalaman dalam membuka, memahami, mengupas permasalahan, dan mengklasifikasikan kitab-kitab klasik (Kutubut Turaats Al-Islami) dan mampu mempraktekkannya dalam masyarakat luas pada umumnya serta individu khususnya. Sehingga pada akhirnya mereka dapat menjadi santri yangTafaqquh […]

    Selengkapnya »
  • Kegiatan Pra Imtas Lembaga 1

    Kegiatan Pra Imtas Lembaga 1

    • Senin, 22 Agustus 2022

    Dibaca: 4,120 Kegiatan Pra Imtas Lembaga 1 dengan jumlah peserta 53 santri TMI putri kelas 2 dan kelas 3. Seluruhnya mengikuti kegiatan tersebut yang dilaksanakan pada Senin, 22 Agustus 2022.  

    Selengkapnya »
  • Pesantren Darul Muttaqien

    Selayang Pandang Pesantren Darul Muttaqien

    • Sabtu, 29 Agustus 2026

    Dibaca: 226 Selayang Pandang Pesantren Darul Muttaqien Pesantren Darul Muttaqien merupakan lembaga pendidikan Islam yang hadir untuk mendidik, membina, dan mempersiapkan santri agar memiliki ilmu, keterampilan, akhlak, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar, tetapi sebagai lingkungan pendidikan yang membentuk jiwa, karakter, dan kesiapan santri untuk kembali berkontribusi di […]

    Selengkapnya »
  • Perubahan Jadwal Kedatangan Santri Lama TMI Darul Muttaqien

    Perubahan Jadwal Kedatangan Santri Lama TMI Darul Muttaqien

    • Kamis, 16 Juli 2020

    Dibaca: 4,231 Berdasarkan Hasil Keputusan Rapat Pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqien, dengan mempertimbangkan perkembangan situasi saat ini, berikut kami sampaikan perubahan jadwal kedatangan santri lama TMI ke pesantren Tahun Pendidikan 2020-2021 : NO HARI/TANGGAL WAKTU KEDATANGAN SANTRI TAHAP 1 1 Sabtu, 18 Juli 2020 07.00-15.00 Kelas 6 dan 5 Putra 2 Ahad, 19 Juli 2020 […]

    Selengkapnya »
  • Ikrar Wakaf Tanah untuk Diniyah Takmiliyah Darul Muttaqien

    Ikrar Wakaf Tanah untuk Diniyah Takmiliyah Darul Muttaqien

    • Kamis, 12 Oktober 2023

    Dibaca: 1,750 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung” (QS. Al Maidah : 5). Mendekatkan diri kepada Allah memang kewajiban bagi setiap hamba karena membuat hati […]

    Selengkapnya »
  • Tips Memilih Pesantren untuk Anak: 10 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Orang Tua

    Tips Memilih Pesantren untuk Anak: 10 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Orang Tua

    • Jumat, 28 Agustus 2026

    Dibaca: 152 Memilih pesantren untuk anak bukan sekadar mencari tempat untuk belajar dan tinggal. Bagi orang tua, keputusan ini menyangkut pendidikan, pembentukan karakter, lingkungan pergaulan, kebiasaan sehari-hari, hingga persiapan anak menghadapi masa depan. Karena itu, cara memilih pesantren untuk anak perlu dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Pesantren yang baik bukan hanya memiliki fasilitas yang lengkap, […]

    Selengkapnya »