Beranda » Artikel » Pesantren Ibarat Akuarium di Era Digital

Pesantren Ibarat Akuarium di Era Digital

Bogor, 8 Oktober 2026 — Kamisan Pendidik di Pesantren Darul Muttaqien menjadi ruang rutin bagi para guru untuk kembali menyegarkan kesadaran tentang amanah pendidikan. Pada edisi Kamis, 8 Oktober 2026, Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, mengajak para pendidik melihat kembali sikap, tanggung jawab, dan keteladanan di tengah era informasi yang serba terbuka.

Dalam tausiyahnya, KH. Mad Rodja Sukarta menggambarkan pesantren seperti sebuah akuarium. Apa yang berlangsung di dalamnya dapat dilihat oleh masyarakat luas, terlebih di tengah perkembangan teknologi dan media digital.

“Kita-kita ini guru, santri, karyawan, siapa saja yang ada di sini itu laksana Darul Muttaqien ini, lembaga pendidikan ini, pesantren ini laksana akuarium.”

Menurut beliau, era digital membuat informasi bergerak sangat cepat. Karena itu, seluruh warga pesantren perlu semakin bijaksana dalam bersikap dan menjaga setiap aktivitas yang berlangsung di lingkungan pendidikan.

“Di era informasi, di era digital, di era yang serba cepat ini kita harus bijaksana.”

 

Keteladanan Dimulai dari Diri Sendiri

Mad Rodja Sukarta menekankan bahwa berbagai persoalan yang muncul di lingkungan pendidikan tidak cukup hanya dijawab dengan aturan atau sistem. Ada tanggung jawab pribadi yang harus tumbuh dalam diri setiap guru dan pengelola pesantren.

Beliau kemudian mengajak para pendidik untuk melihat kembali bagaimana mereka menjalankan amanah sehari-hari. Mulai dari kedisiplinan mengikuti Kamisan, ketepatan waktu mengajar, persiapan pembelajaran, hingga sikap yang dapat menjadi contoh bagi santri.

“Manajemen yang paling sentral di dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di pesantren ini adalah manajemen hati kita.”

Baginya, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan absensi dan administrasi. Hal yang lebih penting adalah kesadaran dari dalam diri seorang pendidik.

“Patut gak kita sebagai guru mengajar terlambat? Patut gak kita ngajar gak pakai i’dad?”

 

Guru yang Tuntas, Santri yang Terbimbing

Dalam tausiyah tersebut, Kiyai Rodja juga menyinggung pentingnya ketuntasan pribadi bagi seorang guru. Ia mengutip sebuah ungkapan dari lingkungan pesantren bahwa keberhasilan pendidikan santri berkaitan erat dengan ketuntasan para pendidiknya.

“Sesungguhnya ketuntasan anak-anak belajar di pesantren itu ditandai dengan ketuntasan para gurunya, ketuntasan pimpinan pesantrennya, ketuntasan para pihak karyawannya.”

Ketuntasan yang dimaksud bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan, tetapi kemampuan menyelesaikan persoalan dan menjaga kondisi batin agar tidak menjadi beban yang terbawa ke ruang kelas.

Menurutnya, persoalan yang tidak selesai dalam diri seorang guru dapat memengaruhi proses pendidikan tanpa disadari. “Biasanya bisa terjadi tanpa disadari, yang jadi korban itu murid yang kita ajar.”

Karena itu, beliau mengajak para pendidik untuk membangun budaya tawassau, yakni saling mengingatkan dalam suasana kebersamaan dan kesetaraan, tanpa terjebak pada senioritas maupun perbedaan posisi.

“Suasana batin di mana tawassau itu saling mengingatkan di dalam kesetaraan. Sebagai sesama makhluk, sebagai sesama insan, sebagai sesama guru, sebagai sesama profesi.”

Kamisan Pendidik edisi 8 Oktober 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga guru yang sehat secara pikiran, matang secara sikap, dan tuntas dalam menjalankan amanahnya.

Mad Rodja menutup refleksinya dengan ajakan sederhana: memperbaiki diri dari dalam agar kehidupan di dunia menjadi lebih baik dan bernilai hingga akhirat. “Mari sehatkan pikiran kita, sehatkan badan kita.”

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya