Upacara Pekanan TMI Angkat Peran Santri dalam Kemerdekaan dan Indonesia Emas 2045
Bogor, 7 November 2026 — Upacara pekanan santri Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (TMI) Pesantren Darul Muttaqien rutin dilaksanakan setiap Sabtu pagi sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan, keberanian, dan wawasan santri. Pada upacara Sabtu, 7 November 2026, santri kelas 3 TMI mendapat kesempatan menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan mengangkat tema sejarah perjuangan bangsa serta masa depan Indonesia.
Dalam pidato berbahasa Inggris bertajuk “The Important Role of Santri in Indonesia Independence”, santri mengingatkan kembali besarnya kontribusi para santri dan ulama dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa kemerdekaan tidak hanya lahir dari keberanian para pahlawan, tetapi juga dari perjuangan para santri dan ulama yang turut mengambil bagian dalam mempertahankan tanah air.
Ia juga menegaskan bahwa santri bukan sekadar pelajar yang mendalami Al-Qur’an dan ilmu agama, tetapi juga generasi yang dibentuk untuk memiliki keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab.
“Santri are not just students who learn how to read Quran, not just students who learn about Islamic knowledge, but they are also students that have learned courage, independence and responsibility.”
Artinya: “Santri bukan hanya pelajar yang belajar membaca Al-Qur’an dan mendalami ilmu agama, tetapi juga generasi yang belajar tentang keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab.”
Dalam pidatonya, ia turut mengingatkan peran KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang dikenal melalui kontribusinya dalam perjuangan bangsa, termasuk Resolusi Jihad yang menjadi salah satu pemantik semangat perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, khususnya menjelang Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Menutup pidatonya, ia mengajak para santri untuk memiliki cita-cita besar dan tidak membatasi impian hanya pada kesuksesan pribadi.
“Great power comes great responsibility.” yang artinya: “Kekuatan yang besar datang bersama tanggung jawab yang besar.”
Santri dan Generasi Emas Indonesia 2045
Sementara itu, dalam pidato berbahasa Arab, santri kelas 3 TMI lainnya mengangkat tema Indonesia Emas 2045. Ia mengajak para santri untuk memahami bahwa setiap bangsa memiliki cita-cita dan setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkannya.
Salah satu pesan yang disampaikan dalam pidatonya adalah:
«إِنَّ كُلَّ أُمَّةٍ لَهَا طَلَبٌ وَكُلَّ جِيلٍ لَهُ رِسَالَةٌ»
Artinya: “Sesungguhnya setiap bangsa memiliki cita-cita dan setiap generasi memiliki misi.”
Ia menjelaskan bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar perayaan satu abad kemerdekaan Indonesia, melainkan harapan untuk mewujudkan bangsa yang maju, makmur, kuat, dan mampu bersaing di antara bangsa-bangsa dunia.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, generasi muda perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, akhlak, keikhlasan, dan sikap istiqamah. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran penting dalam mempersiapkan masa depan bangsa. Tidak hanya unggul dalam ilmu agama, santri juga diharapkan memiliki wawasan luas, karakter kuat, serta kepedulian terhadap kehidupan masyarakat dan negara.
Melatih Keberanian dan Wawasan Santri
Kesempatan menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi bagian dari pembelajaran santri TMI untuk melatih kemampuan berbahasa, keberanian berbicara di depan umum, serta menyampaikan gagasan secara terarah.
Melalui kegiatan upacara pekanan, santri tidak hanya mendapatkan pembinaan kedisiplinan, tetapi juga diajak untuk mengenal sejarah perjuangan bangsa, memahami tanggung jawab sebagai generasi penerus, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Dengan pembiasaan tersebut, Pesantren Darul Muttaqien terus berupaya membentuk santri yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan memiliki kontribusi nyata bagi agama, masyarakat, serta bangsa Indonesia.

Saat ini belum ada komentar