Menjelang babak akhir masa pendidikan di pesantren, para santri kelas 6 TMI kini tengah berjuang melewati fase krusial: Ujian Lisan Akhir.
Sebagai bagian dari rangkaian evaluasi kelulusan yang terdiri dari ujian lisan dan tulis, ujian lisan ini digelar selama empat hari, mulai dari Sabtu hingga Selasa (11–14 April 2026). Di hadapan para penguji, para calon alumni ini wajib mempertanggungjawabkan penguasaan materi mereka selama bertahun-tahun di pesantren.
Materi yang diujikan bukan sekadar teori. Pada materi Dirasah Arabiyah, kemampuan bahasa dan nalar mereka diuji melalui mata pelajaran Mutholaah, Nahwu, Shorof, Mahfudzot, hingga Tarbiyah. Tak berhenti di situ, kefasihan berkomunikasi secara internasional juga ditantang melalui mapel Bahasa Inggris, yang meliputi Reading Comprehension, Conversation, dan Speaking.
Salah satu santri putra Rilosyah, yang baru saja keluar dari ruang penguji dengan napas lega mengatakan, “Jujur, rasanya sangat berbeda dengan ujian lisan saat saya masih kelas 1 sampai kelas 5 dulu. Kali ini ketegangannya luar biasa. Di dalam ruangan, bukan hanya hafalan yang diuji, tapi mentalitas kita sebagai calon alumni benar-benar dipertaruhkan.” ungkapnya dengan wajah yang masih tampak tegang namun bersyukur.
Di sisi lain, santri putri memiliki cara tersendiri dalam menghadapi tekanan ujian akhir ini. Ketenangan dan manajemen waktu menjadi kunci utama agar materi dapat dikuasai dengan baik. Nasywa, salah seorang santri putri berbagi tips mengenai persiapannya menghadapi ujian, “Kiat utama saya adalah menjaga focus belajar. Selain belajar secara intensif, memperbanyak doa dan meminta restu orang tua serta guru adalah sumber ketenangan paling ampuh. Kami sadar ini adalah langkah terakhir sebelum benar-benar terjun ke masyarakat,” tuturnya.
Setelah usainya ujian lisan ini, para santri masih harus bersiap menghadapi ujian tulis sebagai penentu akhir perjalanan mereka di pesantren. Semangat berjuang, para calon pemimpin masa depan!

Tinggalkan Komentar