Kamis, 6 Agustus2026, Kegiatan silaturahmi rutin yang digelar setiap pekan ba’da shalat Dzuhur berjamaah ini kembali mempertemukan para guru dan pimpinan pesantren dalam satu majelis ilmu, sekaligus ajang mempererat ukhuwah di antara para pendidik.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, menyampaikan tausiyah yang menyentuh tema besar tentang penataan sumber daya manusia dan pengembangan potensi diri. Beliau mengajak para hadirin merenungkan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. “Manusia itu diciptakan adalah sebagai penata alam ini… bahkan lebih dari itu, manusia mendapatkan gelar menjadi wakil Tuhan,” ungkap Kiai Mad Rodja membuka tausiyahnya.
Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah bagaimana Allah menitipkan tanda-tanda kekuasaan-Nya bukan hanya pada alam semesta, tetapi juga pada diri manusia itu sendiri. Beliau mencontohkan tiga keunikan biologis yang dimiliki setiap manusia, yakni pita suara, wajah, dan sidik jari, sebagai bukti nyata kebesaran Allah. “Pita suara manusia sekalipun itu suaranya mungkin sampai kepada mirip, tapi yang sama itu tidak ada,” tegasnya.
Beliau melanjutkan, keunikan tersebut bukan sekadar fakta biologis, melainkan juga menjadi dasar ilmiah untuk menegakkan kebenaran di tengah maraknya manipulasi data dan penyimpangan yang dilakukan sebagian orang demi kepentingan sesaat.
Dalam tausiyahnya, Kiai Mad Rodja juga menyoroti pentingnya pendekatan ilmiah, alamiah, insaniah, hingga ilahiyah dalam menggali potensi diri para pendidik. Beliau menyinggung ikhtiar yang tengah dirintis oleh Ustadz Awaludin bersama tim, yang memadukan berbagai disiplin ilmu untuk membaca potensi para guru di lingkungan Darul Muttaqien.
“Dari sekian ratus guru, pimpinan yang ada di Darul Muttaqien, itu adalah ratusan kekuatan dahsyat jika digali dengan pendekatan-pendekatan tadi,” ujarnya penuh optimisme.
Namun demikian, Kiai Mad Rodja mengingatkan bahwa proses ini tidaklah mudah. Ia menyebut adanya “tradisi-tradisi pelemahan” berupa keyakinan-keyakinan yang menyimpang dari akidah murni, seperti klenik dan mistisisme, yang kerap menjadi penghalang berkembangnya potensi umat.
“Belajar matematika itu hanya orang-orang yang cerdas atau jenius, itu adalah pembohongan besar terhadap pola pikir kita sehingga pikiran kita menjadi manusia terbelakang,” kata beliau, mencontohkan salah satu pandangan keliru yang selama ini membatasi rasa percaya diri masyarakat dalam belajar.
Kegiatan Kamisan ini menjadi salah satu ikhtiar Pesantren Darul Muttaqien dalam terus merawat kebersamaan dan meningkatkan kualitas keilmuan para pendidiknya, sekaligus menanamkan semangat bahwa setiap individu memiliki potensi besar yang layak untuk terus digali dan dikembangkan.
Tinggalkan Komentar