PERKUTSY Darul Muttaqien Melatih Kemandirian dan Kepemimpinan Santri
BOGOR — Setelah menyelesaikan rangkaian perlombaan olahraga sejak Senin hingga Rabu, para santri Pesantren Darul Muttaqien melanjutkan PORSEKA ke-38 dengan mengikuti Perkemahan Khutbatul ‘Arsy (PERKUTSY) pada Kamis (13/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Pesantren Darul Muttaqien hingga Jumat (14/8/2026) ini menjadi kesempatan bagi santri untuk belajar mengurus diri, bekerja sama, dan menghadapi berbagai situasi di luar rutinitas sehari-hari.
Keluar dari Zona Nyaman
Pembukaan PERKUTSY diisi dengan amanat pembina upacara yang disampaikan oleh Ananda Dzar Dinata, santri kelas 6 TMI. Dalam amanatnya, ia mengajak peserta memahami kegiatan ini sebagai bagian dari proses mengenal visi dan arah pendidikan pesantren.
Menurut Dzar, perkemahan menjadi ruang untuk menyamakan langkah, meluruskan niat, serta menguatkan tujuan dalam menuntut ilmu dan berorganisasi.
“Selama seharian penuh ini, kita akan diuji, bukan hanya fisik kita, tetapi juga mental, emosional, dan spiritual kita. Keluar dari zona nyaman rumah, kita belajar untuk mengurus diri sendiri,” ujarnya.
Berbagai perlengkapan perkemahan juga ia gambarkan sebagai pelajaran kehidupan. Tenda mengajarkan kemandirian, tiang mengingatkan pentingnya prinsip, sementara tali yang terikat erat menggambarkan ukhuwah dan kebersamaan.
Belajar Bertanggung Jawab dan Peduli
Selama mengikuti PERKUTSY, santri tidak hanya menjalani aktivitas perkemahan, tetapi juga belajar menghadapi tanggung jawab bersama. Mereka dituntut untuk mengurus kebutuhan sendiri, mengikuti aturan, menyelesaikan tugas, dan menjaga kekompakan kelompok.
Dzar mengajak peserta untuk saling membantu ketika menghadapi kesulitan dan tidak membiarkan teman berjalan sendiri.
“Bila ada kawan yang kesulitan, bantu dia. Bila ada kawan yang kelelahan, rangkul dia. Karena di sini adalah keluarga kedua kita yang diuji kekuatannya,” pesannya.
Pengalaman tersebut melatih santri untuk memahami bahwa kemandirian tidak berarti berjalan sendiri. Dalam kehidupan bersama, kemampuan membantu, bekerja sama, dan memperhatikan orang lain juga diperlukan.
Bagian dari Pembinaan Kepemimpinan
PERKUTSY juga menjadi bagian dari proses kaderisasi santri. Melalui pengalaman langsung, santri dilatih membangun ketahanan fisik dan mental sekaligus mengembangkan kemampuan bekerja sama dan mengambil tanggung jawab.
Nilai-nilai tersebut penting dalam kehidupan santri di pesantren maupun ketika mereka melanjutkan pendidikan dan terjun ke masyarakat. Kepemimpinan tidak hanya membutuhkan kemampuan berpikir, tetapi juga kedisiplinan, keberanian menghadapi kesulitan, kepedulian, dan kemampuan bekerja bersama orang lain.
Karena itu, Dzar mengajak peserta menjadikan PERKUTSY sebagai momentum untuk membawa nilai kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, dan keikhlasan dalam berkhidmat ke kehidupan sehari-hari.
Penutup Rangkaian PORSEKA ke-38
PERKUTSY dijadwalkan berakhir pada Jumat (14/8/2026), bertepatan dengan Hari Pramuka ke-65. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian PORSEKA ke-38 sekaligus melengkapi pengalaman santri setelah mengikuti berbagai perlombaan olahraga.
Melalui kegiatan seperti PERKUTSY, santri mendapatkan kesempatan untuk belajar dalam situasi nyata. Pengalaman mengurus diri, menghadapi tantangan, menjaga kebersamaan, dan menjalankan tanggung jawab diharapkan menjadi bekal ketika mereka menghadapi kehidupan yang lebih luas setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.








Saat ini belum ada komentar