Menjaga Keikhlasan, Meningkatkan Kepekaan
Bogor, 3 September 2026 — Kamis kembali menjadi ruang untuk berhenti sejenak, berkumpul, dan melakukan refleksi bersama bagi para pendidik di Pesantren Darul Muttaqien. Melalui agenda Silaturrahmi dan Kamisan Pendidik, para guru kembali dipertemukan dalam suasana kebersamaan setelah salat Zuhur berjamaah.
Kegiatan rutin ini bukan sekadar pertemuan mingguan. Di dalamnya terdapat ruang untuk menyegarkan kembali niat, memperkuat hubungan antarpedidik, sekaligus mendengarkan nasihat dan renungan dari Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta.
Dalam tausiyahnya, KH. Mad Rodja mengawali dengan mengajak para pendidik untuk mensyukuri kesempatan dapat berkumpul. Menurutnya, pertemuan yang dilakukan dengan hati yang tertuju kepada Allah diharapkan membawa kebaikan dan keberkahan bagi kehidupan.
“Silaturrahim yang seminggu sekali ini mudah-mudahan akan berakibat semakin baik dalam kehidupan kita dan tidak ada yang sia-sia.”
Salah satu pesan utama dalam tausiyah kali ini adalah tentang bagaimana seorang beriman menghadapi ujian kehidupan. KH. Mad Rodja mengingatkan bahwa sakit dan berbagai kesulitan tidak selalu harus dipandang sebagai beban. Bagi orang yang beriman, ujian dapat menjadi bagian dari cara Allah memberikan pelajaran sekaligus mengurangi dosa.
Kisah Nabi Ayub AS menjadi salah satu contoh bagaimana seorang hamba menghadapi ujian panjang hingga akhirnya Allah memberikan kesembuhan. “Yuk renungkan bahwa hidup yang sebentar ini… tanda-tanda kematian itu sudah ada pada diri kita masing-masing.”
Pesan tersebut bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan menjadi ajakan agar manusia tidak terlalu larut dalam urusan dunia. Harta, kedudukan, keluarga, bahkan kehidupan itu sendiri pada akhirnya merupakan titipan Allah yang dapat diambil kapan saja.
Beliau juga mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada hari berikutnya. Karena itu, seorang beriman perlu membangun kesiapan batin untuk menerima takdir Allah.
Menurutnya, menerima ketentuan Allah bukan berarti berhenti berusaha. Justru keyakinan kepada Allah menjadi modal untuk tetap menjalani kehidupan dengan sabar, termasuk ketika menghadapi sakit, kehilangan, maupun berbagai persoalan lainnya.
“Hanya orang-orang yang berimanlah yang akan mampu menghadapi nikmatnya hidup di dunia ini,” ungkap KH. Mad Rodja. Ia kemudian mengingatkan bahwa dunia merupakan tempat untuk beribadah, berkarya, berpikir, dan mengabdi.
Sebagai pendidik, para guru memiliki amanah yang tidak sederhana. Mereka berhadapan dengan santri, keluarga, dan berbagai dinamika kehidupan pesantren yang membutuhkan kesabaran serta kepekaan.
Dalam tausiyahnya, KH. Mad Rodja mengajak para pendidik untuk terus menjaga keikhlasan dalam menjalankan amanah. Berbagai pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan pendidikan dan pengabdian, menurutnya, harus dikembalikan kepada niat untuk beribadah kepada Allah.
Karena itu, ia juga mengajak para guru untuk memilih lingkungan pergaulan yang dapat membawa pengaruh positif dan membuat diri semakin produktif.
“Berikanlah kesejukan di dalam hati kita dengan selalu memperkuat iman kita, memilih eman-teman bergaul yang lebih baik yang bisa mempengaruhi kita semakin produktif di dalam hidup.”
Selain persoalan iman dan keikhlasan, KH. Mad Rodja memberikan perhatian pada pentingnya kepekaan seorang pendidik terhadap lingkungan.
Menurutnya, seorang guru perlu memiliki kemampuan untuk melihat persoalan sebelum berkembang menjadi masalah. Hal-hal kecil yang berkaitan dengan keamanan, ketertiban, kenyamanan, maupun kebersihan pesantren perlu diperhatikan bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap tindakan pendidik dapat menjadi contoh bagi santri. Karena itu, kesalahan kecil sekalipun perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak ditiru oleh anak didik.
“Kepekaan kita juga harus meningkat. Peka dalam segala hal. Insyaallah itu berarti kita selalu meningkatkan kecerdasan kita untuk melihat lingkungan.”
Pada bagian lain, KH. Mad Rodja menyinggung pentingnya kebersamaan antarguru. Menurutnya, setiap pendidik memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itu, apabila ada hal yang perlu diperbaiki, hendaknya disampaikan dengan cara yang baik.
Ia juga mengingatkan agar tugas dan tanggung jawab di pesantren tidak dijalankan karena keterpaksaan. Setiap pengabdian membutuhkan hati yang lapang dan keikhlasan.
“Kita harus saling mengingatkan. Kita ini harus saling menguatkan. Jangan saling melemahkan.”
Pesan itu menjadi salah satu inti refleksi dalam Kamisan Pendidik kali ini. Sebab, pendidikan pesantren tidak dibangun oleh satu orang, melainkan melalui kerja bersama seluruh unsur yang ada di dalamnya.
Kamisan Pendidik edisi 3 September 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa menjadi guru bukan hanya tentang hadir di kelas dan menyampaikan pelajaran. Ada amanah yang lebih luas: menjaga santri, menjaga lingkungan pendidikan, saling menguatkan, serta terus memperbaiki diri.
Di tengah kesibukan mengurus pendidikan dan berbagai persoalan pesantren, para pendidik diajak untuk tidak kehilangan arah. Keikhlasan menjadi dasar, iman menjadi pegangan, kepekaan menjadi sikap, dan kebersamaan menjadi kekuatan.
Sebab, sebagaimana pesan KH. Mad Rodja dalam pertemuan tersebut, kehidupan adalah tempat untuk beribadah, berkarya, berpikir, dan mengabdi. Maka setiap pertemuan, setiap pekerjaan, dan setiap amanah yang dijalankan dengan niat karena Allah, semoga menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang bernilai di hadapan-Nya.

Saat ini belum ada komentar