BOGOR – Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, memberikan nasehat mendalam dalam pertemuan rutin “Kamisan” yang berlangsung di Masjid Putih setelah shalat Dzuhur berjamaah, Kamis (23/4/2026). Dalam arahannya, beliau menekankan peran vital pesantren dalam menjaga identitas bangsa dan meretas peradaban Islam di tengah gempuran materialisme.
Pesantren sebagai Benteng Peradaban Dunia
KH. Mad Rodja Sukarta menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan biasa, melainkan cikal bakal penyelamat peradaban tertinggi. Beliau menyebut pesantren akan menjadi benteng bagi kemanusiaan di tingkat global karena sifatnya yang independen.
Krisis Identitas dan Pentingnya Visi
Beliau juga menyoroti kekhawatirannya terhadap pengikisan identitas bangsa akibat kampanye peradaban materialisme. Saat ini, banyak simbol yang tidak lagi mencerminkan nilai, di mana guru, orang tua, hingga pemimpin mulai kehilangan jati diri dan visi mereka.
Menurut beliau, pesantren memiliki peran untuk mengembalikan jati diri tersebut melalui hidden curriculum atau kurikulum tidak tertulis yang masuk melalui keteladanan tokoh pendidikan dan guru.
Politik untuk Perbaikan Peradaban
Dalam pandangan beliau, peradaban Islam harus direalisasikan melalui proses panjang dan ikhtiar sadar, termasuk melalui jalur politik. Beliau mendefinisikan politik sebagai upaya kolektif untuk memperbaiki keadaan.
“Politik itulah ikhtiar sadar untuk memperbaiki peradaban secara kumulatif. Karena orang soleh itu secara sendiri-sendiri insya Allah banyak… Tetapi peradaban Islam itu pasti akan terbentuk dengan ikhtiar sadar dari satu komunitas yang namanya pesantren.”
Integrasi Nilai Keislaman dan Kebangsaan
Mad Rodja Sukarta juga mengingatkan kembali pentingnya memahami Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 secara benar. Beliau menegaskan bahwa dasar negara Indonesia sangat sejalan dengan nilai ketuhanan dan esensi Islam. Visi besar bangsa ini adalah menyatukan segala perbedaan suku (Batak, Sunda, Padang, dll.) dalam satu bingkai manusia merdeka yang bertuhan.
Melahirkan “Kartini Masa Kini”
Bertepatan dengan semangat hari Kartini, beliau berharap akan lahirnya guru-guru perempuan yang memiliki pemahaman Islam yang mendalam untuk menjadi pelopor kemajuan. Beliau menekankan bahwa perempuan disiapkan untuk memegang amanah besar sebagai khulifatufillah (wakil Allah di bumi).
Syukur atas Berkah dan Program MBG
Di akhir nasehatnya, pimpinan pesantren mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas segala fasilitas dan bantuan yang diterima, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sertifikasi guru, dan bantuan operasional lainnya. Beliau mengingatkan agar segala fasilitas tersebut dijadikan alat pacu untuk memberi manfaat lebih besar bagi negara.
“Semakin banyak tantangan kalau orang beriman itu dia semakin riang gembira. Semakin banyak masalah dia akan naik kelas. Semakin banyak kesibukan memikirkan keumatan… di situlah kita sedang meretas peradaban.”
Pertemuan ditutup dengan pesan agar seluruh dewan guru tetap bersemangat, menjaga kesehatan, dan terus membawa visi wahyu dalam setiap langkah pengabdian di Darul Muttaqien.
Tinggalkan Komentar