Selasa, 21 Sep 2021
  • Pesantren Darul Muttaqien : Satu dalam Aqidah, Toleransi dalam Khilafiyah, Berjama'ah dalam Ibadah

SELAMAT MILAD KE 71 UNTUK GURU DAN ORANG TUA KAMI KH. MAD RODJA SUKARTA

Semoga Kesehatan, Keberkahan dan Kebahagiaan Selalu Mengiringi Beliau

Oleh : Ahmad Sastra

Terlahir di Sukabumi pada tanggal 27 Juli 1950, KH Mad Rodja Sukarta hari ini genap berusia 71 tahun. Meski usianya sudah tak muda lagi, semangat perjuangan bukanlah mengendur, justru semakin membara. Setiap ucapannya berisi motivasi perjuangan dan optimisme hidup. Semangat hidupnya hanya untuk mendedikasikan diri kepada upaya meningkatkan kualitas umat dan kejayaan Islam.

Kendati dilahirkan dari keluarga pedesaan yang tak berpunya secara materi dan juga tak berpendidikan tinggi, namun hal itu tidak menghalanginya untuk selalu memupuk semangat dalam belajar. Pengaruh kakeknya, Kyai Sukri, melekat kuat dalam diri beliau. Sikapnya yang tegas, lugas, berani, sederhana, mandiri  dan berdisiplin tinggi yang menjadi ciri khasnya telah tertempa sejak kecil, karena kondisi hidup keluarganya yang serba terbatas saat itu.

Berkobarnya semangat untuk meningkatkan kualitas umat ini senantiasa disampaikan dimana dan kapanpun serta kepada siapapun. Siapapun bertemu dengan beliau senantiasa diajak untuk memikirkan kemajuan Islam. Keterampilan berkomunikasi beliau menjadikan mudah diterima dan dipahami oleh lawan bicaranya, baik rakyat biasa maupun pejabat negara sekalipun.

Visi Islam yang selalu beliau emban terfokus pada usahanya memajukan pendidikan di Pesantren Darul Muttaqien. Sejak berdirinya Pesantren Darul Muttaqien pada 18 Juli 1988, Kyai yang dikenal karena kesederhanaannya ini tak pernah berhenti berusaha memajukan lembaga dengan berbagai kesusahan dan ujian yang menghalanginya. ‘Makin dihalangi, maka kita harus semakin semangat dalam perjuangan’. Katanya suatu saat.

Kobaran semangat hampir tak pernah padam. Beliau pernah menyampaikan bahwa jangankan harta dan tenaga, bahkan  nyawapun akan dijual kepada Allah demi kejayaan Islam. Beliau juga pernah mengatakan bahwa semakin berat tantangan, maka semakin semangat untuk terus berjuang, sebab disitulah pertolongan Allah akan datang. Sebab menurut keyakinan ayah 4 anak ini bahwa ujian bukanlah hambatan, namun merupakan peluang ibadah.

Ketika mendapat amanah memimpin Pesantren Darul Muttaqien sejak 33 tahun yang lalu, visi Islamlah yang selalu beliau emban. Terkait visi Islam di pesantren, beliau pernah menyampaikan bahwa : ‘Andai Darul Muttaqien tidak berkomitmen untuk meraih visi besar agama dan bangsa, maka santri hanya akan menjadi korban pendidikan. Guru Darul Muttaqien bukanlah guru, pegawai kontrak atau bawahan pimpinan, namun mitra perjuangan bersama untuk mewujudkan visi besar ini. Ingat, Pesantren Darul Muttaqien sedang mengemban visi Islam, bukan visi golongan’, ucapnya pada 10 Januari 2021.

Masa kecil dan pendidikan dari SD sampai SMA dihabiskan di daerah kelahirannya, Pelabuhan Ratu. Jenjang kesarjanaannya diperoleh di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN). Sebelum diberi amanah menjadi Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien Parung pada tahun 1988, menantu KH Abdul Manaf Mukhayyar ini telah menjadi guru di Perguruan Al Azhar Jakarta sejak 1974 dan pesantren Darunnajah Jakarta. Dari pernikahanya dengan Hj. Muslihati Manaf, putri pendiri Pesantren Darunnajah Jakarta, KH. Abdul Manaf Mukhayyar (alm) kini telah dikaruniai empat anak : Zahrotunnisa, Muhammad  Averus, Qotrunnada dan Eva Afifah.

Menginjak usianya yang kini telah genap 71, beliau telah  berkiprah di berbagai organisasi tingkat daerah maupun Nasional. Semenjak mahasiswa telah aktif di PMII, kini aktif di MUI Kab. Bogor, Nahdhatul Ulama Kab. Bogor, Forum Silaturahmi  Ulama dan Umara (FOSIRUU) Bogor, MP3 Depag RI, BKSPPI, Forum Kerukunan Umat Beragama,  dan aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan maupun sebagai pembicara di berbagai forum diskusi. Beliau juga pernah 10 tahun Pimpinan Pesantren An Nahl Cikeusik Pandeglang Banten atas amanah dari Pesantren Darunnajah Jakarta.

Waktu terus bergulir dengan cepat, tanpa terasa Pesantren Darul Muttaqien telah memasuki usia yang tak muda lagi. Pesanten Darul Muttaqien kini telah berusia genap 33 tahun (1988-2021) dibawah kepemimpinan KH Mad Rodja Sukarta. Banyak dinamika mewarnai perjalanan lembaga ini. Meski perjalanan panjang ini tidak bisa dilepaskan dari ujian, namun tentu saja nikmat dan anugerah Allah jauh lebih besar, inilah yang selalu mendorong Kyai Rodja untuk terus memupuk rasa syukur dan optimisme dalam perjuangan di pesantren ini.

Umur, menurut Kyai Rodja bukanlah deretan waktu, namun merupakan deretan kesadaran dan prestasi. Karena itu, beliau senantiasa mendorong umat Islam untuk menjadi umat terbaik dalam segala hal. Beliau selalu memberikan perumpamaan orang yang punya semangat hidup, meski tidak percaya kepada Allah, apalagi seorang muslim yang beriman dan dijanjikan surga, maka mestinya lebih semangat dan lebih baik.

Di awal kepemimpinan beliau, Darul Muttaqien bermula dari luas area wakaf 1,8 hektar dari almarhum Moh. Nahar, namun seiring perjalanan waktu, kini area wakaf pesantren Darul Muttaqien telah menjadi 210,10 hektar, bahkan akan terus berusaha memperluas area pesantren. Area pesantren Darul Muttaqien tersebar di empat wilayah, diantaranya Bogor, Sukabumi, Cikeusik dan Dumai. Darul Muttaqien selalu berusaha menambah area wakaf demi terselenggaranya pendidikan Islam  dan kejayaan peradaban Islam di masa depan, begitu tekad besar beliau.

Dalam sejarahnya, Pesantren Darul Muttaqien didirikan oleh para tokoh pejuang diantaranya adalah, almarhum KH Sholeh Iskandar, almarhum KH Abdul Manaf Mukhayyar, almarhum Mohammad Nahar dan KH Mahrus Amin. KH Mad Rodja Sukarta sebagai pengemban amanah kepemimpinan memiliki prinsip dan spirit untuk tidak berhenti menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, bersih, luas dan produktif.

Di usia yang ke 4 windu tahun lalu (32 tahun), Kyai Rodja mengangkat spirit untuk memperkuat manajemen kelembagaan dan nilai kepesantrenan melalui pendekatan ilahiah, insaniah, ilmiah dan alamiah. Maksud dari spirit ini adalah upaya Darul Muttaqien untuk meningkatkan kualitas manajemen kelembagaan dan juga memberkuat nilai-nilai kepesantrenan. Darul Muttaqien sadar bahwa antara manajemen dengan nilai harus berjalan seiring, tidak boleh hanya salah satunya. Darul Muttaqien menyadari bahwa perjuangan Rasulullah juga tidak bisa dilepaskan dari kedua aspek ini. Manajemen adalah ikhtiar rasional, sementara nilai keyakinan adalah ikhtiar spiritual.

Dalam banyak perbincangan dengan para guru, beliau selalu memberikan pesan-pesan perjuangan. Beliau tegaskan bahwa penghancur diri dan lembaga adalah kesalahan niat pada manusia yang mengemban amanah. Sebab mengemban amanah bukanlah pekerjaan yang ringan, mengemban amanah adalah tugas yang berat dan penuh tantangan. Hal ini sejalan dengan pahala yang akan diberikan Allah kepada hambaNya yang amanah. Dari sinilah pentingnya niat yang tulus dan penyiapan kader masa depan lembaga ini harus terus dijaga dan dirawat.

‘Kita harus meneladani sifat Rasulullah yang sidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Sertakan akidah dalam semua aktivitas di pesantren ini, sebab itulah ruh pesantren. Jangan sampai Darul Muttaqien terjebak arus sekulerisme yang sedang menggerogoti  di semua aspek kehidupan, terutama pendidikan’, tegasnya.

Di lain waktu beliau juga berpesan bahwa para guru harus memiliki visi jauh ke depan agar Darul Muttaqien terus tegak dan makin maju serta memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. Jangan sampai usia Darul Muttaqien hanya berusia periode pertama (50), namun harus terus tegak sampai kiamat. Penguatan nilai kepesantrenan diharapkan mampu menjadikan peralihan generasi ini tidak mengalami disorientasi. Generasi berikutnya harus menjadi generasi pengembang lembaga, jangan sampai menjadi generasi penikmat dan apalagi perusak.

Beliau juga tak pernah berhenti mengingatkan agar Darul Muttaqien menjadi lembaga yang mandiri. Beliau pernah menyampaikan pesan : ‘sebagai pemangku amanah di Darul Muttaqien, kita tidak boleh berhenti berfikir untuk memajukan kualitas umat ini. Fikirkan bagaimana pesantren ini mandiri dan kokoh tegak berdiri. Jangan pernah bermimpi membesarkan pesantren dengan berharap mendapatkan sumbangan dari manusia. Sebagai pengemban amanah perjuangan jangan mengkayakan hidup dengan melimpahnya materi, tapi kayakan diri kita dengan cita-cita keumatan. Kelola Darul Muttaqien dengan penuh amanah dan berjamaah. Tidak gampang mengelola lembaga pendidikan ini, perlu keikhlasan, kesungguhan, kerjasama, kompetensi diri, disiplin, dan mengambil peran kelembagaan dengan kinerja optimal’.

Beliau melanjutkan pesannya : ‘Di masa mendatang Darul Muttaqien harus menjadi pelopor  lembaga Islam berkemajuan di semua aspeknya. Jika perlu Darul Muttaqien mempelopori berdirinya perguruan tinggi Islam yang berkualitas dengan memperkuat kualitas dan kompetensi diri seluruh SDM pengelolanya. Kesejahteraan pendidik tidak boleh diabaikan, mereka harus dimuliakan secara maksimal. Karena itu sekali lagi, luruskan niat, perkuat sistem, guru jangan dibelenggu. Pentingnya standarisasi baca tulis al Qur’an bagi guru dan santri. Sebanyak 261 guru dan 2000 lebih santri adalah tugas berat. Sinergitas semua komponen untuk memajukan pesantren : tidak ada yang hebat diantara kita. Semua saling membantu dan membesarkan. Jangan saling melemahkan dan mengkerdilkan dalam perjuangan di pesantren’.

Tentu saja masih sangat banyak keteladanan yang telah diberikan oleh KH Mad Rodja Sukarta selama memimpin Darul Muttaqien maupun sebagai tokoh masyarakat. Dalam usia yang kini tengah beranjak 71 tahun, beliau tetap istiqomah menjadi contoh sekaligus pembimbing para guru, santri dan masyarakat. Semangat untuk menyatukan umat Islam juga tidak pernah luntur. Untuk itu, kita harus terus bersyukur masih bersama beliau, semoga kita bisa terus menimba samudra nilai kebaikan dari beliau. Semoga Allah senantiasa memberikan usia panjang dan penuh keberkahan kepada beliau, memberikan kebahagiaan bagi seluruh keluarganya dan keluarga besar Darul Muttaqien.

Dua ayat yang sering beliau sampaikan adalah (1) QS At Taubah : 122 : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (2) QS Muhammad : 7 : Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Akhirnya, semoga Allah senantiasa menjaga KH Mad Rodja Sukarta, orang tua dan guru kita semua. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kesehatan, keberkahan dan kebahagiaan dunia akhirat. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan seluruh keluarganya. Semoga Allah menjaga keberlangsungan Pesantren Darul Muttaqien ini sebagai lembaga penyelamat aqidah dan ilmu bagi umat pada umumnya.

‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan beragama, kesehatan badan, limpahan ilmu, keberkahan rezeki, taubat sebelum datangnya maut, rahmat pada saat datangnya maut, dan ampunan setelah datangnya maut. Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, berikanlah kami keselamatan dari api neraka, dan ampunan pada saat hisab’.

(Ahmad Sastra, Kota Hujan,27/07/21 : 09.30 WIB)

 

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR