Seperti biasa setiap hari Sabtu pagi, gedung Madinah dan gedung Ummu Habibah menjadi tempat pelaksanaan upacara rutin santri Tarbiyatul Mu’allimin wal Mu’allimat al-Islamiyah (TMI). Upacara dimulai tepat pukul 06.00 WIB, diikuti oleh seluruh santri dengan penuh khidmat dan disiplin.
Yang menarik, petugas upacara berasal dari kalangan santri sendiri yang telah dipilih dan dijadwalkan secara bergilir setiap pekannya. Mereka bertanggung jawab atas seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari memimpin upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga penyampaian pidato pembina upacara.
Namun, ada satu hal yang menjadi ciri khas upacara di lingkungan santri TMI Darul Muttaqien, yakni penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam seluruh prosesi, mulai dari aba-aba pimpinan upacara hingga amanat pembina. Hal ini menjadi bagian dari pembiasaan berbahasa asing di lingkungan pesantren yang dikenal sebagai “Bilingual Environment”.
Dalam amanatnya, pembina upacara menyampaikan pesan mendalam berbahasa Arab kepada para santri tentang pentingnya menjaga diri di tengah kondisi dunia yang semakin mengkhawatirkan, ia berkata “Dunia sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Anak usia dini saat ini sudah diberi suguhan tontonan yang tidak cocok dengan usianya. Banyak orang sekarang lebih berpedoman pada media sosial daripada pada Al-Qur’an dan Hadist. Beruntunglah kita yang mondok di pesantren, karena dengan izin Allah, kita terjaga dari berbagai gangguan yang ada di luar sana,” ujarnya dalam sambutannya.
Melalui kegiatan upacara rutin ini, diharapkan para santri tidak hanya menumbuhkan jiwa kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga terus memperkuat komitmen keilmuan, moral, dan spiritual yang menjadi fondasi utama kehidupan di pesantren.

Tinggalkan Komentar