Mengurus Pesantren 24 Jam Harus Dilandasi Keikhlasan
BOGOR — Mengajar bukan sekadar menjalankan kewajiban, begitu pula mengurus pesantren bukan hanya pekerjaan yang dibatasi jam kerja. Di balik setiap kegiatan pendidikan, terdapat amanah besar dan perjuangan panjang yang membutuhkan keyakinan serta keikhlasan karena Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, dalam kegiatan Silaturrahmi dan Kamisan Pendidik edisi Kamis, 5 November 2026. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para pendidik untuk memaknai setiap aktivitas pesantren sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah, bukan sekadar rutinitas yang dilakukan berulang kali.
Mad Rodja mengingatkan bahwa pertemuan Kamisan, upacara, hingga kegiatan mengajar merupakan perkara besar apabila dijalankan dengan pemahaman terhadap tujuan pendidikan pesantren.
“Kalau kita sebagai orang pesantren, subhanallah luar biasa, ini adalah perkara besar. Orang-orang itu selalu mencari bagaimana caranya supaya hidup di dunia ini menjadi hidup bermakna, hidup hanya sebuah pengabdian kepada Sang Pencipta,” tuturnya.
Keikhlasan Menjadi Kekuatan Pesantren
Menurut KH. Mad Rodja, kehidupan pesantren memiliki karakter yang berbeda dengan pekerjaan pada umumnya. Jika sebagian pendidik memiliki waktu pulang setelah menyelesaikan tugas, pengelolaan pesantren dan pembinaan santri berlangsung selama 24 jam.
Ia pun mengajak para pendidik merenungkan alasan di balik pengabdian tersebut. Baginya, keikhlasan karena Allah menjadi kekuatan utama agar perjuangan pendidikan dapat terus berjalan.
“Kalau bukan motivasinya lillahi ta’ala, kalau bukan karena Allah, kekuatannya hitungannya hanya bulan, minggu, hari,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pesantren memiliki sejarah panjang dalam menjaga pendidikan Islam. Sejak masa penjajahan, para ulama tetap mengajarkan ilmu agama meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan. Bahkan, ada yang mengajar hanya beberapa santri dengan tetap menjaga komitmen dan istiqamah.
“Dengan komitmen, dengan istiqamah, itulah pesantren,” ungkapnya.
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa kemandirian dan keikhlasan merupakan bagian penting dari jati diri pesantren. Ia mengajak seluruh pendidik untuk tidak kehilangan keyakinan terhadap nilai-nilai yang selama ini menjadi dasar perjuangan pendidikan Islam.
Kembali kepada Tujuan Pengabdian
Dalam tausiyahnya, KH. Mad Rodja Sukarta juga mengingatkan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi pesantren harus dijawab dengan nilai-nilai agama, keyakinan, serta tuntunan Allah dan Rasul-Nya. “Jawabannya ya agama, jawabannya itu keyakinan, jawabannya adalah konsep Allah dan Rasul-Nya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan Kamisan, upacara, dan berbagai program pendidikan bukan sekadar agenda kelembagaan. Seluruhnya merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat diri dan menjaga keberlangsungan pendidikan pesantren.
“Betapa pentingnya Kamisan ini, pentingnya upacara ini, pentingnya kita melaksanakan program ini. Ini adalah untuk kepentingan kita, bukan kepentingan orang lain,” pesannya.
Di akhir tausiyah, KH. Mad Rodja mengajak para pendidik untuk terus meningkatkan iman dan takwa serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. “Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita. Selalulah kita mendekatkan diri kepada Allah, berdoa kepada Allah,” pungkasnya.
Kamisan Pendidik edisi 5 November 2026 menjadi pengingat bahwa kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada program dan aktivitasnya, tetapi juga pada keikhlasan orang-orang yang menghidupkannya. Mengabdi di pesantren berarti menjaga keyakinan, merawat tradisi, dan menjadikan setiap pekerjaan sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT.


Saat ini belum ada komentar