Beranda » Artikel » Iman Menjadi Kunci Kebaikan Hidup Dunia dan Akhirat

Iman Menjadi Kunci Kebaikan Hidup Dunia dan Akhirat

BOGOR — Bagi seorang muslim, kehidupan yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah. Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan, sakit, atau perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. Namun, iman menjadi landasan untuk tetap menjalani kehidupan dengan keyakinan dan berharap kepada Allah SWT.

Pesan tersebut menjadi inti tausiyah Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, KH. Mad Rodja Sukarta, dalam kegiatan Silaturrahmi dan Kamisan Pendidik edisi Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia mengajak para pendidik merenungkan kembali makna iman sebagai dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

KH. Mad Rodja Sukarta mengawali refleksinya dengan doa yang akrab dibaca umat Islam, Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil-aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar—memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari api neraka.

Menurutnya, kebaikan hidup tidak dapat dilepaskan dari iman. Ia mengingatkan bahwa iman bukan sesuatu yang diam atau selalu berada pada tingkat yang sama, melainkan dapat bertambah dan berkurang.

“Iman itu sifatnya dinamis. Al-iimaanu yaziidu wa yanqush,” ujar KH. Mad Rodja dalam tausiyahnya.

Karena itu, iman perlu dirawat melalui ibadah dan perilaku sehari-hari. Salat lima waktu, misalnya, bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar memelihara iman dalam hati, pikiran, dan tindakan.

Beliau juga mengingatkan bahwa iman seharusnya tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Menjaga lisan, tidak mengambil hak orang lain, serta tetap berbuat baik meskipun disakiti merupakan bagian dari refleksi keimanan.

Ia mengajak para pendidik untuk tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan. Bahkan, mendoakan orang yang menyakiti kita dapat menjadi latihan untuk menjaga hati dan memperkuat keyakinan kepada Allah.

“Iman itu adalah perkara yang paling mendasar, yang awal, dan yang akhir,” tuturnya.

Menurutnya, kebaikan yang dilakukan dengan niat menolong tidak akan sia-sia di hadapan Allah. Ia mencontohkan tindakan membantu orang lain, termasuk memberikan pinjaman, sebagai bentuk kebaikan yang tetap bernilai selama dilakukan dengan niat dan cara yang baik.

Pesan ini menjadi pengingat bagi para pendidik bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi di kelas. Keteladanan dalam bersikap, menjaga amanah, dan memperlakukan sesama juga merupakan bagian penting dari pendidikan di pesantren.

Lebih lanjut, kiyai Rodja menegaskan bahwa iman perlu menjadi pegangan dalam berbagai keadaan, baik ketika senang maupun susah, sehat maupun sakit, serta saat sibuk ataupun memiliki waktu luang.

“Iman itu adalah totalitas keyakinan yang mendasari gelaran hidup. Senang susah, sakit sehat, sibuk ataupun nganggur, insyaallah kita tetap di dalam bimbingan Allah,” ungkapnya.

Ia berharap para pendidik senantiasa menjaga iman agar setiap aktivitas memiliki nilai kebaikan dan menjadi bagian dari ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya