Beranda » Berita » Upacara Pekanan TMI Tanamkan Nilai Kepedulian dan Syukur

Upacara Pekanan TMI Tanamkan Nilai Kepedulian dan Syukur

Bogor, 17 Oktober 2026 — Upacara pekanan santri TMI Pesantren Darul Muttaqien rutin dilaksanakan setiap Sabtu pagi sebagai bagian dari pembinaan karakter, kedisiplinan, dan penguatan nilai-nilai keislaman. Pada edisi Sabtu, 17 Oktober 2026, santri kelas 2 TMI mendapat kesempatan menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab dengan mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam pidato berbahasa Inggris, salah satu santri membahas pentingnya mencegah perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan bahwa perundungan bukanlah hal sepele yang dapat dianggap sebagai bagian biasa dari proses pertumbuhan, melainkan tindakan yang dapat menyakiti orang lain dan menimbulkan dampak emosional.

“Bullying is when someone uses their power or strength to hurt, break them, or execute others.” yang artinya: “Perundungan terjadi ketika seseorang menggunakan kekuasaan atau kekuatannya untuk menyakiti orang lain.”

Pidato tersebut menjelaskan bahwa perundungan dapat berbentuk kekerasan fisik, hinaan secara verbal, maupun tindakan melalui media digital atau cyberbullying. Santri juga diajak untuk tidak tinggal diam ketika menyaksikan perundungan. Sebaliknya, mereka perlu berani menyuarakan kebenaran, memberikan dukungan kepada korban, serta meminta bantuan guru atau orang dewasa yang dapat dipercaya.

Pesan ini menegaskan bahwa setiap santri memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan penuh rasa hormat.

 

Memaknai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Sementara itu, pidato berbahasa Arab mengangkat tema tentang makna kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dalam penyampaiannya, santri mengajak para hadirin untuk merenungkan kembali arti kebaikan yang sering dimohonkan melalui doa kepada Allah SWT.

Ia menyampaikan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kekayaan, kedudukan, kesehatan, atau keberhasilan meraih cita-cita. Sebab, setiap orang memiliki keadaan dan perjalanan hidup yang berbeda. Dalam pidatonya, ia menyampaikan:

«نَحْنُ نَقُولُ كَثِيرًا نُرِيدُ أَنْ نَعِيشَ سُعَدَاءَ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

Artinya: “Kita sering mengatakan bahwa kita ingin hidup bahagia di dunia dan akhirat.”

Melalui pesan tersebut, santri diajak memahami bahwa kebaikan dapat hadir dalam berbagai keadaan. Ketika memperoleh kesulitan, seorang Muslim hendaknya bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, ia hendaknya bersyukur dan memanfaatkannya untuk beribadah serta melakukan kebaikan.

Pesan ini juga mengingatkan para santri agar tetap berusaha meraih cita-cita tanpa melupakan rasa syukur dan keyakinan kepada Allah SWT. Keberhasilan bukan hanya tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyikapi setiap ketentuan dengan iman dan akhlak yang baik.

 

Melatih Keberanian dan Membentuk Karakter Santri

Kesempatan berpidato dalam dua bahasa menjadi bagian dari pembelajaran santri kelas 2 TMI untuk melatih keberanian berbicara di depan umum sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang bermanfaat. Materi yang diangkat juga menunjukkan bahwa pembinaan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu, tetapi turut menyentuh persoalan akhlak dan kehidupan sosial.

Melalui kegiatan upacara pekanan, santri diharapkan semakin memahami pentingnya menghormati sesama, menjauhi perundungan, membiasakan sikap sabar dan syukur, serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Berita Lainnya