Santri Putri Darul Muttaqien Kunjungi Kantor Redaksi Majalah Gontor, Perkuat Keterampilan Jurnalistik
Bogor – Sebanyak 55 santri putri yang tergabung dalam komunitas Darul Muttaqien Journalist (DMJ), Santri Putri Darul Muttaqien Kunjungi kantor Redaksi Majalah Gontor, Perkuat Wawasan dan Keterampilan Jurnalistik
didampingi oleh lima guru pembimbing, melaksanakan kunjungan edukasi studi literasi ke kantor redaksi Majalah Gontor pada Jumat, 30 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperluas wawasan santri sekaligus mengembangkan kemampuan dan minat mereka di bidang jurnalistik.
Sebelum keberangkatan, Kepala Pengasuhan Putri, Ust. Suwardi, menyampaikan pesan kepada seluruh peserta dalam doa bersama pelepasan rombongan. Beliau berpesan agar para santri dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar dan menimba pengalaman dari para praktisi jurnalistik.
“Jadilah penulis hebat supaya kalian dikenal oleh dunia sepanjang masa. Untuk itulah hari ini kalian berangkat untuk belajar dengan tim redaktur Majalah Gontor,” ungkap beliau.
Setibanya di kantor redaksi, para santri mendapatkan pemaparan materi jurnalistik yang disampaikan oleh Ust. Fathurroji NK, wartawan senior Majalah Gontor yang telah bergabung sejak majalah tersebut pertama kali berdiri pada tahun 2003.
Dalam pemaparannya, Ust. Fathurroji menjelaskan bahwa Majalah Gontor merupakan media Islam yang menyajikan berbagai informasi dan isu terkini seputar tarbiyah, keluarga, ekonomi, hingga peradaban yang dikemas melalui tulisan-tulisan bernuansa keislaman. Menurutnya, sebagai media Islam, Majalah Gontor tentu memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Lebih lanjut, beliau memaparkan visi dan misi Majalah Gontor, yakni menegakkan akhlakul karimah, menyebarkan pengetahuan Islam, meningkatkan kualitas pendidikan umat, merekatkan ukhuwah Islamiyah, serta membela kepentingan umat.
Pemaparan materi berlangsung interaktif. Para santri tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan. Berbagai pertanyaan pun muncul dari peserta yang ingin mengetahui lebih jauh tentang proses kreatif dan perjalanan dunia jurnalistik.
Salah satu santri, Yasmin, mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana Majalah Gontor menjaga konsistensi gaya penulisan dan desain dari masa ke masa. Menanggapi hal tersebut, Ust. Fathurroji menjelaskan bahwa Majalah Gontor telah memiliki pakem atau standar tersendiri sejak awal penerbitannya. Konsistensi tersebut dipertahankan, mulai dari penggunaan jenis huruf (font), gaya desain, hingga tata letak (layout), sehingga menjadi identitas visual yang terus dijaga hingga saat ini.
Diskusi semakin menarik ketika Siti Azka, salah satu peserta lainnya, menanyakan bagaimana Majalah Gontor tetap mempertahankan produksi media cetak di tengah perkembangan media digital dan media sosial yang menawarkan penyebaran informasi secara lebih praktis.
Ust. Fathurroji menjelaskan bahwa selama Pondok Modern Darussalam Gontor masih berdiri, Majalah Gontor akan tetap diproduksi, dicetak, dan didistribusikan setiap bulan. Beliau juga menambahkan bahwa perkembangan teknologi digital tetap diikuti dengan menghadirkan informasi aktual melalui website resmi Gontor News yang dapat diakses melalui https://gontornews.com/.
Menjelang akhir kegiatan, Ust. Fathurroji memberikan motivasi kepada para santri agar terus berlatih menulis, mengasah kemampuan, dan mengembangkan passion di bidang jurnalistik. Beliau mengungkapkan bahwa ada kebanggaan tersendiri ketika tulisan yang dihasilkan dapat dipublikasikan dan dibaca oleh banyak orang.
“Akan ada kebanggaan sendiri ketika tulisan kita dipublish,” tuturnya.
Beliau juga berpesan, “Kalau passion kita nikmati, akan ada jalan yang tidak terduga,” sembari menceritakan pengalamannya berkeliling dunia melalui bidang jurnalistik yang selama ini ditekuni.
Kunjungan edukasi ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman belajar di luar lingkungan pesantren, tetapi juga menjadi motivasi bagi para anggota DMJ untuk semakin produktif, kreatif, dan percaya diri dalam menghasilkan karya jurnalistik.


Saat ini belum ada komentar