Syukuri Amanah, Rawat Santri dengan Pelayanan Terbaik
BOGOR — Tidak semua hal baik yang kita miliki hadir semata-mata karena kemampuan diri sendiri. Kesehatan, kesempatan mengajar, kepercayaan orang tua, hingga kehadiran para santri merupakan nikmat Allah SWT yang perlu disyukuri dan dijaga. Kesadaran inilah yang menjadi pengingat bagi para pendidik dalam menjalankan amanah di lingkungan pesantren.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Pimpinan Pesantren Darul Muttaqien, H. Turhamun, M.Pd., dalam kegiatan Silaturrahmi dan Kamisan Pendidik edisi Kamis, 29 Oktober 2026. Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh pendidik untuk tidak merasa bahwa keberhasilan yang diraih semata-mata merupakan hasil kemampuan pribadi, melainkan juga berkat pertolongan dan karunia Allah SWT.
“Terkadang kita melupakan Allah di dalam setiap aktivitas kegiatan kita. Terkadang kita melupakan Allah di dalam setiap napas kita, di setiap penglihatan kita, bahkan di dalam suapan pertama nasi kita,” tutur H. Turhamun.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan santri maupun perkembangan pesantren tidak sepatutnya menjadi alasan untuk membanggakan diri secara berlebihan. Sebaliknya, setiap pencapaian perlu dikembalikan kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan.
“Yang memintarkan anak itu adalah Allah,” tegasnya, mengingatkan para pendidik agar tidak hanya mengaitkan keberhasilan santri dengan kemampuan guru, tetapi juga menyadari peran Allah dalam setiap proses pendidikan.
Dalam tausiyah tersebut, H. Turhamun juga mengutip nasihat dari kitab Al-Hikam tentang pentingnya mensyukuri nikmat. Menurutnya, rasa syukur bukan cukup diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam merawat amanah yang telah diberikan.
“Barang siapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka dia sedang mengikat nikmat itu sekuat-kuatnya dengan ikatan yang kencang sekali,” ungkapnya saat menjelaskan pesan dalam kitab tersebut.
Ia kemudian mengajak seluruh warga pesantren untuk menjaga berbagai amanah, terutama anak-anak yang dititipkan oleh orang tua kepada lembaga pendidikan.
“Mari kita rawat, mari kita urus apa yang Allah telah titipkan di pondok kita ini, terutama adalah anak-anak kita. Kita urus dengan baik, kita didik dengan benar, kita layani dengan benar,” pesannya.
Menurutnya, tantangan mendidik generasi saat ini semakin besar. Perbedaan karakter dan perkembangan zaman menuntut para pendidik untuk terus belajar, berpikir, serta meningkatkan kesabaran dan ketekunan dalam mendampingi santri.
“Anak-anak kita ini perlu kita ayomi dengan kesungguhan yang besar agar kemudian tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan orang tua dan harapan kita semua, menjadi calon-calon pemimpin umat ke depan,” lanjutnya.
Kamisan Pendidik edisi 29 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa amanah pendidikan tidak berhenti pada kegiatan mengajar. Ada tanggung jawab untuk merawat kepercayaan, meningkatkan kualitas pelayanan, dan mendampingi santri dengan sepenuh hati. Sebab, mensyukuri nikmat pesantren berarti menjaga dan mengelola amanah yang ada di dalamnya dengan sebaik-baiknya.

Saat ini belum ada komentar